Oleh : Sayid Qutub

Allah memusnahkan riba dan menyuburkan sedekah. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang tetap dalam kekafiran, dan selalu berbuat dosa. (Qs. Al Baqarah : 276)

Di balik lembaran kekufuran dan dosa serta ancaman yang berat bagi pelaku sistem riba, di bentangkanlah lembaran iman dan amal saleh, ciri-ciri khusus kaum mukminin dalam segi ini, dan kaidah kehidupan yang menopang sistem lain yaitu sistem zakat yang merupakan kebalikan sistem riba,

“Sesungguhnya orang orang yang beriman, mengerjakan amal saleh, mendirikan shalat, dan menunaikan zakat, mereka mendapatkan pahala di sisi tuhannya. Tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati” (QS. Al Baqarah : 277)

Unsur yang tampak jelas dalam ayat ini adalah unsur “Zakat”, yaitu unsur pemberian harta tanpa mengharap imbalan dan balasan. Dengan demikian, ayat ini hendak memaparkan sifat orang mukmin dan kaidah masyarakat beriman. Kemudian, dibentangkan gambaran keamanan, ketenangan, dan keridhaan Illahi yang meliputi masyarakat yang beriman ini.

Sesungguhnya zakat merupakan kaidah masyarakat yang setia kawan dan saling menolong, yang tidak membutuhkan jaminan-jaminan sistem riba di sisi mana pun dalam segi segi kehidupannya.

Bentuk “Zakat” mencengangkan perasaan kita dan perasaan generari generasi yang sial dari Umat Islam yang belum menyaksikan sistem Islam diterapkan dalam dunia realitas. Juga mereka yang belum menyaksikan sistem ini berdiri di atas asa tashawwur imani, pendidikan imani, dan akhlak imani, untuk membentuk jiwa manusia dengan bentukan khusus.

Kemudian mendirikan untuknya sistem yang di dalamnya dapat bernapas dengan lega, tashawurnya yang benar, akhlaqnya yang bersih, dan keutamaan-keutamaanya yang tinggi. Lalu, menjadikan “zakat” sebagai pilarnya untuk melawan sistem jahiliah yang ditegakkan di atas sistem riba, serta menjadikan kehidupan dapat berkembang dan ekonominya dapat maju melalui usaha keras masing masing pribadinya atau dengan kerja sama yang bebas dari riba.

Gambaran ini telah mencengangkan perasaan generasi-generasi yang sial karena tidak mendapatkan keuntungan ini, generasi yang belum pernah menyaksikan gambaran kemanusiaan yang tinggi. Mereka dilahirkan dan hidup dalam kepedihan sistem materialis yang ditegakkan di atas asas riba. Mereka juga menyaksikan kekerasan, kekikiran, permusuhan, gontok-gontokan, dan individualisme yang menguasai hati nurani manusia. Kemudian, individualisme itu menjadikan harta tidak berpindah kepada orang-orang yang membutuhkannya melainkan dalam bentuk riba yang tercela, dan menjadikan manusia hidup tanpa jaminan selama mereka tidak mempunyai harta ppersediaan atau ikut asuransi dengan sistem riba. Juga menjadikan aktivitas perdagangan dan perindustrian tidak mendapatkan dan akecuali dengan jalan riba. Maka meresaplah dalam perasaan generasi yang sial ini dengan melihat kenyataan bahwa di sana tidak ada sistem kecuali ini dan tidak ada kehidupan kecuali didasarkan pada prinsip in.

Bentuk zakat begitu mencengangkan sehingga generasi ini mengira bahwa ia adalah kebaikan individual yang kurus, yang tidak dapat menjadi dasar berdirinya sistem modern. Akan tetapi, berapa banyak hasil yang dipersoleh zakat, yaitu 2,5 % dari modal dan keuntunganya? Yang ditunaikan oleh orang yang dibentuk kepribadiannya secara khusus oleh Islam, orang-orang yang dididik dengan pendidikan khusus, pengarahan-pengarahan dan syariatnya, dan sistem kehidupan khusus yang tashawwurnya terkesan begitu tinggi dalam hati orang-orang yang tidak hidup di dalamnya.

Dalam Negara Islam, zakat dapat ditetapkan sebagai hal yang diwajibkan, bukan sebagai amal perorangan. Dengan zakat, negara dapat menjamin setiap orang dari kaum muslimin yang kekurangan, sehinga setiap orang akan merasa kehidupan diri dan keluarganya terjamin dalam segala keadaan. Dengan zakat, dapatlah dibayar hutang orang yang menanggung utang, baik utang yang dialaminya dalam dunia perdagangan maupun dalam bidang lain.

Yang penting bukanlah bentuk aturan ini, melainkan ruhnya (jiwanya). Karena itu, masyarakat yang dididik oleh Islam dengan pengarahan-pengarahan, undang-undang, dan sistemnya itu sangat pas dengan bentuk sistem itu sendiri dan sejalan dengan untang untang dan pengarahannya, yang menumbuhkan rasa setiakawanan dan solidaritas di dalam hati.

Inilah hakikat (kenyataan) yang tidak pernah dibayangkan oleh orang-orang yang lahir dan hidup di bawah bayang-bayang sistem materialis. Ini adalah kenyataan yang kita (kaum muslimin) ketahui dan rasakan dengan perasaan imani. Apabila mereka terhalang untuk merasakan ini karen aburuknya pandangan mareka dan sialnya nasib mereka yang dibimbing oleh sistem materialis maka memang demikianlah yang harus mereka terima, sehingg aterhalanglah mereka dari kebaikan yang dijanjikan oleh Allah kepada “orang-orang yang beriman, mengerjakan amal shaleh, mendirikan shalat dan menunaikan zakat”

Biarlah mereka terhalang untuk mendapatkan ketenangan dan keridhaan, terhalang dari ganjaran dan pagala. Hanya karen akejahilan, kejahiliahan, kesesatan, dan kekeraskepalaanyalah mereka terhalang dari semua itu!

Sesungguhnya Allah yang maha suci menjanjikan kepada orang-orang yang menegakkan kehidupannnya di atas keimanam, kesalehan, ibadah, dan tolong-menolong bahwa dia akan senantiasa memelihara pahala mereka disisi-Nya, menjanjikan keamanan kepada mereka sehingga tidak erasa takut dan memberikan kebahagiaan sehingga tidak merasa bersedih hati.

“Mereka mendapat pahala di sisi tuhannya. Tidak ada rasa takut atas mereka, dan tidak (pula) mereka bersedih hati.”

Pada waktu yang sama, dia mengancam para pemakan riba dan masyarakat pengguna sistem riba bahwa mereka akan kehilangan berkah, binasa, bingung, tersesat, gelisah, dan takut. Manusia sudah menyaksikan kenyataan bahwa apa yang dijanjikan Allah itu terjadi di kalangan masyarakat muslim. Apa yang diancamkan itu juga terjadi di kalangan masyarakat pengguna sistem riba.

Seandainya kita berkuasa untuk memegang setiap orang yang lalai, lalu kit amenggoncangnya dengan goncangan yang keras sehingga ia sadar akan kenyataan yang terjadi ini dan memegang setiap mata yang terpejam lalu membuka kedua kelopak matanya terhadap keadaan ini, tentu akan kita lakukan. Akan tetapi kita tidak berkuasa melainkan hanya sekadar menunjukan kenyataan ini saja.

Semoga Allah memberi hidayah kepada menusia yang bernasib buruhk dalam kenyataan ini, karena hati itu dalam penguasaan Ar-Rahman (Allah yang maha pengasih) dan petunjuk itu hanya datang dari Allah.

Tafsir Surah Al Baqarah Ayat 276-277
Dalam Fii Dhilaalil Quran