Oleh: Zakat Darussalam

“Inna ma’al-‘usri yusrā” (QS. Al-Insyirah: 06)

Begitu singkat Allah SWT berfirman. Dia memberi isyarat kepada hamba-Nya bahwa kesulitan dalam perjuangan merupakan rangkaian proses menuju perubahan situasi yang lebih baik. “Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.”

Sebuah sunnatullah yang pasti terjadi. Allah membangun kenikmatan dengan melengkapi segala kesulitan yang dialami manusia dengan kemudahan sebagai balasan atas kesabaran. Seperti halnya hidangan penutup yang manis-manis setelah hidangan berat yang pedas dan penuh lemak.

Kemudahan dalam hidup terjadi apabila Allah mengizinkan ( bi idznillah) dan menolong ( bi aunillah) terhadap segala usaha kita. Selanjutnya, usaha menjadi lancar ketika semua manusia mendukung dan membantu. Dengan pertolongan Allah dan dukungan manusia maka alam akan mendukung dan semakin mengondisikan sebuah kemenangan.

Pertolongan Allah bisa diraih jika kita memiliki tempat terdekat di sisi-nya. Sedangkan dukungan diperoleh jika kita memiliki kedudukan tertinggi di hadapan-Nya. Suatu puncak prestasi sebagai hamba/abid dan juga sebagai khalifah fil Ardh.

Dengan posisi itu, manusia mendapatkan kedudukan yang mulia, baik di hadapan Allah maupun di hadapan manusia dan semesta.

Manusia akan sangat disayang oleh Allah Dzat Yang Maha Kuasa, dan akan dicintai oleh seluruh umat manusia.

Tidak satu pun permohonan yang akan ditolak oleh Allah, dan tidak satu pun perintah yang akan dibantah oleh manusia. Satu posisi yang membuat manusia sangat mudah melakukan apa yang harus dikerjakan dan mendapatkan segala apa yang diinginkan.

Akan tetapi, seperti yang diisyaratkan dalam ayat di atas, untuk mencapai kemudahan itu, manusia harus melalui berbagai kesulitan. Sebagai bumbu penyedap yang menambah kenikmatan dan hiasan pelengkap yang menambah keindahan hidup.

Nabi Ibrahim adalah salah seorang yang mendapatkan kedudukan itu. Di hadapan Allah, ia adalah seorang kekasih yang sangat dicintai oleh Allah SWT. Ia dijuluki Khalilullah yang artinya sang kekasih Allah. Sedangkan di hadapan menusia, dia adalah pemimpin tertinggi.

Dalam sebuah firman Allah disebutkan,

“Innii ja’iluka Linnasi Imaama.”

Allah mengangkatnya sebagai pemimpin di atas seluruh ummat manusia.

Meski begitu, kedudukan itu diberikan setelah Nabi Ibrahim berhasil lulus dari beberapa ujian, yang semuanya mengandung berbagai kesulitan dan kepedihan.

“Waidzibtalaa ibrahiima Rabbuhu bi kalimatin, fa atammahunna.”

“Dan (ingatlah) ketika Ibrahim diuji Tuhannya dengan beberapa kalimat (perintah dan larangan), lalu Ibrahim menunaikannya.” (QS. Al-Baqarah: 124)

Suatu ujian yang membangun jiwa dan memberi jalan Nabi ibrahim menjadi kapabel dan qualified untuk memegang tugas-tugas kepemimpinan umat manusia.

Kalimat yang diujikan kepada nabi ibrahim berisi hukum Allah yang meliputi perintah dan larangan dalam hidup. Ibrahim berhasil menunaikannya secara sempurna. Ibrahim memiliki kualitas diri semakin unggul dengan menjiwai seluruh KalimatuIllah dalam dirinya, dan Ibrahim berhasil menegakkan syariat agama tauhid dalam tatanan masyarakat.

Allah mencintainya dan memberikan hadiah terindah kepadanya berupa kemuliaan.

Dalam Tafsirnya, Ibnu Katsir, mengutip riwayat Ibnu Jarir dari Qatadah, ia menceritakan, Al-Hasan Al-Bashri pernah menuturkan, “Demi Allah, Allah telah menguji Ibrahim dengan suatu masalah, lalu ia bersabar atasnya. Diuji dengan bintang, matahari dan bulan, dan ia mampu melampauinya dengan baik. Ia tahu bahwa Rabbnya tidak akan pernah lenyap, kemudian dia mengarahkan wajahnya kepada Rabb yang menciptakan langit dan bumi dengan cenderung kepada agama yang benar dan dia bukan dari golongan orang-orang musyrik. Setelah itu, Allah mengujinya dengan hijrah, yang mana ia pergi dari negeri dan kaumnya dengan niat hijrah karena Allah Ta’ala, hingga dia pun sampai ke Syam. Kemudian dia diuji dengan api (yaitu dibakar) sebelum hijrah, dia pun menghadapinya dengan penuh kesabaran. Selain itu, Allah memerintahkan menyembelih putranya (Ismail), dan berkhitan, lalu ia pun bersabar atasnya.”

Itulah kesulitan yang dihadapi oleh Nabi Ibrahim dan berhasil ia selesaikan dengan tuntas. Kesulitan yang begitu besar menuntut pengerahan seluruh potensi diri secara maksimal, mengorbanan jiwa dan harta, meninggalkan saudara dan keluarga. Sebanding dengan kemudahan yang ia dapat, sebuah kedudukan tertinggi sebagai kekasih Allah dan sebagai imam bagi seluruh ummat manusia.

Ratusan tahun Nabi Ibrahim menjalani ujian itu, sebanding dengan usia kepemimpinannya yang mencapai ribuan tahun dan meliputi seluruh bangsa. Namanya disebut dalam setiap bacaan tahiyat dalam shalat kaum muslimin, diakui sebagai rasul serta tercatat dalam kitab seluruh agama samawi. Nama yang sangat besar dan sosok yang sangat melegenda melebihi bintang-bintang dunia yang pernah ada saat ini.

Banyak dari kita sangat sederhana menginterpretasi ayat itu (Al-Insyirah: 6). Padahal Nabi Ibrahim sendiri berdarah-darah, berderai air mata menjalaninya.

Kita sering menafsir ayat itu bahwa ada ifthar setelah shaum, ada turunan setelah tanjakan, ada bonus setelah bekerja keras, ada kesuksesan setelah jatuh bangun. Padahal makna kesulitan dalam ayat itu adalah kerasnya perjuangan, terjalnya jalan menegakkan syariat Allah di muka bumi.
Menegakkan kalimat laa ilaaha Illallah itu bertaruhkan nyawa. Sedangkan kemudahan yang dimaksud adalah tempat terdekat di sisi Allah dan kedudukan tertinggi di hadapan manusia.

Mungkin kita minder dan merasa tidak percaya diri mengikuti jejak Nabi Ibrahim. Padahal, Nabi Ibrahim sendiri sudah meminta kepada Allah agar ujian yang besar dan kedudukan yang tinggi itu juga diwariskan kepada keturunannya. qāla wa min żurriyyatī, qāla lā yanālu ‘ahdiẓ-ẓālimīn. Keturunan secara bilogis, ataupun keturunan secara ideologis sebagai orang yang sama sama membawakan tugas risalah.

“Ibrahim berkata: “(Dan saya mohon juga) dari keturunanku”. Allah berfirman: “Janji-Ku (ini) tidak mengenai orang yang zalim”

Doa Nabi Ibrahim terkabul dengan diuji dan diangkatnya rasul keturunannya yang menjadi penguasa besar dunia. Nabi Yusuf, As menjadi Raja Mesir setelah beliau tetap sabar dianiaya saudara-saudaranya, difitnah dipenjara oleh sang raja.

Setelah itu, ada Nabi Musa As. Menjadi raja bani Israil setelah diuji untuk melawan Fir’aun, berhijrah dan berperang melawan bangsa Palestina dan dia tetap sabar.

Nabi Daud As. menjadi raja juga setelah berani bertarung melawan Jalut dan berhasil mewujudkan kedilan sosial pada ummatnya. Masih banyak kisah rasul keturunan Nabi Ibrahim yang sabar dalam ujian dan akhirnya dianugerahi kemenangan dan kejayaan termasuk Nabi Sulaiman As.

Sebagai keturunan Ideologis, yang jauh masa kehidupannya dengan nabi Ibrahim dan bukan dari keturunan para rasul maupun khalifah, adalah Daulah Mamluk. Kerajaan yang dibentuk dari kaum budak terpelajar. Yang dipekerjakan di istana membantu para tuannya dalam menjalankan pemerintahan. Para budak itu terdidik secara agama, terlatih secara militer dan terasah secara politik. Sehingga pada suatu saat negeri Mesir di ambang kejatuhan dari hancurnya Daulah Ayubiyah. Para budak itu berhasil mengambil alih pemerintahan dan menyelamatkan kekuasaan Islam dari ekspansi bangsa Mongol. Berdiri hingga 250 tahun dan tercatat sebagai penyelamat umat Islam di abad pertengahan.

Sudahlah cukup bukti bahwa orang orang yang berhasil menunaikan ujian (kalimatillah) yang berisi perintah dan larangan Allah, dapat mencapai puncak kejayaannya menjadi orang yang berkedudukan tinggi di hadapan manusia dan terdekat di sisi Allah.

Maka yang terakhir dapat disimpulkan bahwa makna kesulitan sebagai ujian di sini juga berarti kesusahpayahan dalam mengimplementasikan hukum tauhid. Dan kemudahan sebagai kemuliaan akan datang dengan bentuk kekuasaan yang tinggi dan peradaban yang mulia. Tidak sembarang kesusahan bisa berbuah kemudahan. Sebab tanpa menegakkan hukum Allah, kesengsaraan akan senantiasa meliputi diri kita.

Tiada jalan lain selain menjalani menegakkan syariat Islam untuk mencapai kejayaan Ummat Islam.

(W.A.T.N)

KEPUSTAKAAN
1. QS. Al-Insyirah: 6
2. Qs. Al Baqarah: 124
3. Tafsir Ibnu Katsir tentang Surat Al-Baqarah: 124
4. Qs. Shaad: 21 – 26 Tentang Kisah Nabi Daud.
5. Sejarah Daulah Mamluk dalam Sejarah Bangsa Tartar: Raghib As-Sirjani

Share Button