Apologi orang-orang kaya dan mampu untuk tidak ikut berjihad
Oleh : Sayid Qutub

SESUNGGUHNYA JALAN (UNTUK MENYALAHKAN) HANYALAH TERHADAP ORANG-ORANG YANG MEMINTA IZIN KEPADAMU, PADAHAL MEREKA ITU ORANG-ORANG KAYA. MEREKA RELA BERADA BERSAMA ORANG-ORANG YANG TIDAK IKUT BERJIHAD (MENGORBANKAN JIWA DAN HARTA) DAN ALLAH TELAH MENGUNCI MATI HATI MEREKA, MAKA MEREKA TIDAK MENGETAHUI (AKIBAT PERBUATAN MEREKA).
(QS. AT-TAUBAH : 93)

Tidak ada dosa dan kesalahan atas orang-orang lemah, orang-orang yang sakit, dan orang-orang yang miskin yang tidak memperoleh sesuatu untuk mereka nafkahkan. Rasul pun tidak memperoleh biaya untuk memberikan kendaraan kepada mereka untuk pergi ke medan perang. Mereka tidak berdosa dan tidak bersalah kalau tidak pergi berperang. Seungguhnya dosa dan kesalahan itu hanyalah atas orang-orang yang meminta izin kepada Rasulullah tidak turut berperang, padahal mereka kaya dan mampu pergi berperang serta tidak ada uzur yang sebenarnya. Dosa dan kesalahan itu hanyalah atas orang-orang yang mampu, tetapi mereka rela duduk di rumah seperti orang-orang lain yang tinggal di rumah saja.

Mereka itulah yang bakal disiksa karena tidak mau berangkat berperang, dan karena meminta izin untuk tinggal di rumah. Hal itu disebabkan mereka mundur karena takut dan merasa keberatan. Mereka tidak menunaikan hak Allah atas mereka, padahal Allahlah yang telah memberikan kekayaan dan kemampuan kepada mereka. Mereka tidak menunaikan hak Islam, padahal Islam telah melindungi dan memuliakan mereka. Mereka tidak menunaikan hak masyarakat tempat mereka hidup, padahal masyarakat telah memuliakan mereka dan menjamin keamanan mereka. Oleh karena itu, Allah memilihkan sifat ini untuk mereka.

“.. mereka rela berada bersama-sama orang-orang yang tidak ikut berperang..”

Cita cita mereka telah runtuh, tekad mereka telah melemah, dan mereka rela hidup bersama dengan kaum wanita, anak-anak, dan orang-orang lemah yang tidak turut berperang karena ketidak mampuan memikul tugas-tugas jihad.

“Allah telah mengunci mati mereka maka mereka tidak mengetahui (akibat perbuatan mereka)”.

Allah telah menutup jendela perasaan dan pengetahuan mereka. Dia telah menjadikan tersia-siakan instrumen untuk menerima dan memahami. Karena, mereka telah merelakan kebodohan dan kedunguan untuk diri mereka, dan terhalang untuk melakukan aktivitas yang hidup dan cekatan. Tidaklah seseorang lebih mengutamakan keselamatan yang hina dan kesantaian yang bodoh kecuali orang yang jiwanya kosong dari motif-motif untuk mengetahui, merasakan, mengalami dan mengerti, melebihi kekosongan motivasi untuk eksis, tampil dan merasakan realitas kehidupan. Kebebalan yang mendorongnya bersantai-santai itu adalah karena tertutupnya jendela dan perasaan, tertutupnya kalbu dan akalnya.

Sesungguhnya bergerak (beraktivitas) adalah petanda kehidupan, sekaligus sebagai penggerak kehidupan. Menghadapi bahaya itu akan membangkitkan semangat yang tersembunyi dalam jiwa dan mengobarkan potensi akal, memperkuat anggota badan, menguak potensi-potensi tersembunyi yang baru mencuat ke permukaan ketika diperlukan, dan melatih potensi manusia untuk melakukan aktivitas-aktivitas dan menjadikannya sensitif dan tanggap. Semua itu adalah jenis-jenis ilmu, pengetahuan dna keterbukaan jendela-jendelanya. Semuanya terhalang bagi orang-orang yang mencari kesantaian, kesenangan dan kebodohan, dan keselamatan fisik.

Ayat-ayat ini menjelaskan kondisi orang-orang kaya dan mampu berjihad, tetapi mereka rela tinggal bersama orang-orang yang tidak ikut beperang.

Sesungguhnya di balik kecintaan kepada kehinaan dan mengutamakan kesalamatan fisik itu terdapat cita-cita yang rendah, jiwa yang hina, keinginan yang melenceng, menghindar dari risiko, dan tidak berani bertindak secara transparan.

Tafsir Surah At Taubah Ayat 93
dalam Tafsir Fii Dhilaalil Quran