Kisah Rasulullah Menghancurkan Strata Kelas Sosial

Oleh : Sayid Qutub

Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata.

Qs. Al-Ahzab : 36

Diriwayatkan bahwa ayat ini turun kepada Zainab binti Jahsy R.a. ketika Rasulullah hendak menghancurkan strata sosial dan kelas-kelas sosial masyarakat yang diwarisi secara turun temurun sebelumnya. Rasulullah mengendaki masyarakat Islam dalam kedudukan yang sama laksana gigi-gigi sisir. Tidak ada keistimewaan seorangpun atas orang lain melainkan karena ketaqwaanya.

Para budak yang telah dibebaskan dan kabilah yang berlindung kepada kabilah lain yang lebih besar (yaitu yang disebut dengan almawali) merupakan kelompok masyarakat yang berkelas lebih rendah daripada tuan-tuan dan kepala-kepala suku. Di antara mereka itu ada Zain bin Haritsh bekas budak Rasulullah yang telah diadopsi oleh beliau sebagai anak asuh. Kemudian Rasulullah menghendaki realisasi dari persamaan yang sempurna dengan cara menikahkan Zaid dengan wanita mulia dari bani Hasyim, yaitu kerabat Rasulullah sendiri yang bernama Zainab binti Jahsyi.

Dengan praktik demikian, Rasulullah ingin menghilangkan segala perbedaan kelas dengan menerapkannya sendiri secara langsung dalam keluarganya dan kerabatnya. Perbedaan kelas itu telah begitu berakar dan sangat keras, di mana ia tidak mungkin dapat dihilangkan melainkan oleh pelaksanaan dan contoh praktis dari Rasulullah. Sehingga, Kaum muslimin dapat mengambil contoh darinya dan seluruh manusia berjalan di atas hidayah yang ditujukan oleh Rasulullah dalam perkara ini.

Ibnu Katsir meriwayatkan dalam tafsirnya bahwa Al-‘Auf berkata dari ibnu abbas mengenai firman Allah surah al-Ahzab ayat 36. “Rasulullah bertolak pergi untuk meminang bagi anak asuhnya zain bin Hartisah. Maka, beliau pun masuk ke rumah Zainab binti Jahsy Al Asadiyah r.a. dan meminangnya. Kemudian Zainab menjawab ‘Aku tidak mau mneikah dengannya’. Rasulullah pun bersabda, tidak boleh demikian. Menikahlah dengannya’. Dia menjawab,”Wahai Rasulullah, masih ada ganjalan dalam hati diriku, aku masih harus mempertimbangkan dan memikirkannya. Ketika mereka berdua sedang dialog, Allah menurunkan ayat 36 surah Al Ahzab kepada Rasulullah. Zainab pun berkata, “Wahai Rasulullah, apakah telah anda ridhai dia untuk menikahiku?’ Rasulullah menjawab ‘Ya” Zainab berkata, “kalau demikian aku tidak akan melangga ketentuan Rasulullah, diriku telah rela dinikai olehnya (Zaid bin Haritsah).

Abu luhai’ah memriwayatkan dari Abu imrah, dari ikrimah, dari ibnu Abbas bahwa Rasulullah meminang Zainab binti Jahsy untuk Zaid bin Haritsah r.a. lalu Zainab menolak dengan perasaan sombong dan lebih tinggi daripada Zaid. Dan dia menjawab, “Aku lebih baik daripadanya dari segi nasab’ Zainab memang sedikit ketur, Maka Allah pun menurunkan ayat 36 surah Al Ahzab.

Demikian pula dikatakan oleh mujahid, Qatadah, dan muqatil bin hayyan bahwa ayat tersebut turun kepada Zainab bin Jahsy r.a. ketika ia dipinang oleh Rasulullah untuk bekas budaknya yaitu Zaid bin Haritsah r.a. Pada awalnya dia menolak Zaid, kemudian menerima pinangannya.

Ibnu Katsir meriwayatkan dalam tafsirnya riwayat yang lain bahwa Abdurrahman bin Zaid bin Aslam berkata, “Ayat tersebut turun kepapda Ummu Kultsum binti Uqbah bin Abi Mu’ith r.a. Dia adalah wanita pertama yang ikut berhijrah (yaitu setelah Perjanjian Hudaibiyah). Maka, dia pun menyerahkan dirinya untuk dinikahi oleh Rasulullah. Rasulullah pun menjawab, Aku menerimanya. Namun, kemudian Rasulullah menikahkannya dengan Zaid Bin Haritsah r.a. (Yaitu Wallahu’alam, setelah Zaid bercerai dengan Zainab). Maka, Ummu Kultsum dan saudara lelakinya pun marah, dan mereka berkata ‘Sesungguhnya kami menginginkan Rasulullah, namun beliau menikahkanya dengan (bekas) budaknya”.

Maka Allah pun menurunkan ayat 36 surah al Ahzab. Dan datang pula perintah yang lebih umum daripada itu, yaitu ayat 6 surah AL ahzab: Nabi itu (hendaknya) lebih utama bagi orang-orang mukmin dari diri mereka sendiri dan isteri-isterinya adalah ibu-ibu mereka. Dan orang-orang yang mempunyai hubungan darah satu sama lain lebih berhak (waris-mewarisi) di dalam Kitab Allah daripada orang-orang mukmim dan orang-orang Muhajirin, kecuali kalau kamu berbuat baik kepada saudara-saudaramu (seagama). Adalah yang demikian itu telah tertulis di dalam Kitab (Allah). Jadi, ayat yang sebelumnya adalah khusus, dan ayat yang ini adalah lebih umum.

Koreksi dan kaidah itu adalah bahwa mereka tidak berkuasa apa-apa atas dirinya diri mereka sendiri. Dan mereka tidak berhak menentukan urusan apa-apa bagi diri mereka sendiri. Karena sesunggunya mereka dan apa yang ada di tangan merekaadalah milik mutlak dari Allah. Dia mengatur mereka sesuai dengan kehendak-nya dan memilih bagi mereka apa yang diinginkan-Nya.

“Dan sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam, Kami angkut mereka di daratan dan di lautan, Kami beri mereka rezeki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah Kami ciptakan.”

QS. Al Israa : 70

______________________________

Tafsir surah Al-Ahzab Ayat 36

Dalam Tafsir Fii Dhilaalil Quran