Oleh : Zakat Darussalam
======================================================================

“Bagaimana kamu mengetahui bahwa itu adalah Abdullah?”

Kemudian dia (wanita) itu menjawab :

“Dia berlaga seperti seorang pedagang. Tapi ketika aku meminta kepadanya, dia memberiku layaknya seorang raja. Maka akupun tahu itu adalah Abdullah bin Qais”.

Abdullah Bin Qais Al-Jasi nama lengkapnya. Beliau adalah panglima pasukan Kekhalifahan Islam yang diutus oleh Gubernur Muawiyah bin Abi Sufyan untuk menjaga perbatasan antara wilayah Kekhalifahan Islam dengan wilayah kekuasaan Imperium Romawi. Abdullah bin Qais adalah pimpinan pasukan yang memiliki sifat penyayang. Sebagai bukti kesayangannya, dia pernah melakukan tugas yang berat dan berbahaya sendirian tanpa menugaskan anak buahnya. Dia juga berdo’a kepada Allah agar selalu mengaruniakan keselamatan kepada pasukannya dan agar tidak mengujinya dengan musibah yang menimpa salah seorang dari mereka.

Pada suatu hari, ia melakukan tugas pengintaian di sebuah pelabuhan kecil di daerah kekuasaan Romawi. Untuk memuluskan tugas pengintaiannya tersebut, ia menyamar sebagai seorang pedagang. Ketika ia keluar dari sampannya, ia mendapati para pengemis yang mencegat orang-orang yang lalu lalang. Karena difat kedermawanannya, Abdullah bin Qais kemudian bersedekah kepada mereka. Diantara para pengemis itu terdapat seorang wanita yang cerdik. Wanita itu bisa mengetahui bahwa yang memberikan sedekah kepadanya adalah Abdullah bin Qais, meskipun ia telah menyamar sebagai pedagang.

Setelah ia mengetahui bahwa salah satu yang memberi sedekah adalah abdullah bin Qais, ia kemudian pulang dan melaporkan kepada para pemuda warga setempat yang juga sedang menjaga kawasan itu dari ekspansi pasukan Islam. Abdullah bin Qais sudah diketahui kedudukannya sebagai pimpinan pasukan tentara Islam. Dan para pemuda itu sangat berniat membunuhnya. “adakah kalian yang beminat kepada (membunuh) Abdullah bin Qais” wanita itu bertanya. “Dimana ia berada?” para pemuda itu balik bertanya. “di pelabuhan” jawab wanita itu sambil menunjukannya kepada pawa pemuda itu. Kemudian para pemuda itu mendatangi Abdullah bin Qais dan menyerangnya. Abdullah bin Qais pun melawan mereka sendirian. Akan tetapi akhirnya Ia tetap terbunuh.

Setelah para pemuda itu berhasil membunuh Abdullah bin Qais, para pemuda itu salut kepada wanita cerdik yang bisa mengetahui identitas Abdullah bin Qais dalam penyamarannya. Mereka bertanya kepada wanita itu. “darimana kamu mengetahui bahwa dia adalah Abdullah?” wanita itu menjawab “ dia berlaga seperti seorang pedagang, tapi ketika aku meminta kepadanya, ia memberiku layaknya seorang raja. Dari situlah aku mengetahui bahwa dia adalah Abdullah bin Qais”. Wanita itu melihat ada tanda-tanda kepemimpinan pada diri pedagang. Maka iapun memastikan bahwa ia adalah pimpinan pasukan kaum muslimin yang menggetarkan nyali musuhnya di wilayah tersebut. (Ash-Shalabi : 2012 M.)

Saya menduga wanita itu adalah seorang mata-mata (pengintai) juga yang menyamar sebagai seorang pengemis. Ia ditempatkan di wilayah itu untuk menjaga perbatasan. Apabila ditemukan hal hal yang membahayakan maka wanita itu harus segera melaporkannya kepada yang berwenang melakukan tindakan.

Kegiatan memata-matai dalam istilah popular disebut spionase dan penyamarannya disebut kamuflase. Adapun orang yang melakukannya disebut agen. Itu merupakan hal yang harus ada dalam dunia intelijen karena bekaitan dengan pertahanan dan keamanan sebuah lembaga. Spionase merupakan kegiatan mencari informasi penting mengenai identitas asli, kekuatan strategi dan apapun yang penting yang dari musuh.  Sedangkan kamuflase adalah upaya menyembunyikan identitas diri ketika melakukan kegiatan spionase agar tidak diketahui/tertanggulangi oleh musuh. Disini seorang agen dituntut untuk sepandai-pandainya mencari informasi dari musuh dan serapat-rapatnya menyembunyikan identitas/informasi dari pihak lembaganya.

Dalam studi kamuflase (penyamaran) yang lebih dalam, segala hal tentang diri agen harus sedapat mungkin dirahasiakan. Salah satu caranya adalah False Dating (Pemalsuan data). Dalam upaya pemalsuan data segala hal tentang diri disamarkan, Orang yang namanya Riko diganti nama dengan Ronald, orang yang profesinya agen harus bisa berperan sebagai profesi lain seperti petani, guru atau apapun yang tidak mencurigakan. Asal negara, latar belakang hidup dan silsilah keluarga dan segala hal tentang diri harus dirahasiakan. Semua pemalsuan identitas itu sangat mungkin dan sangat mudah dilakukan dalam dunia intelijen.

Semua hal sangat mudah dipalsukan, akan tetapi ada satu hal yang sulit dipalsukan yaitu kepribadian atau mental.  Setiap agen sangat mudah memakai kedok tapi tidak semua agen bisa merubah suara vocal. Setiap agen sangat mudah memalsukan asal wilayah, tapi tidak semua agen mampu memalsukan watak kesukuan dirinya. Setiap agen sangat mudah menyamar menjadi profesi apapun tapi tidak semua agen dapat memalsukan gaya bekerja, gaya bicara termasuk kebiasaan kebiasaan kecil yang khas yang setiap orang punya.

Sifat-sifat yang sangat unik, khas dan individual dalam diri seperti sifat ambisius, sifat rendah hati, sifat penyayang, sifat sadis, sifat pencemburu, sifat tenang, sifat cerdas, merupakan akumulasi dari seluruh potensi kepribadian diri yang sangat sulit diperankan oleh orang lain. Seorang actor Film atau pemain theater saja yang keahliannya memang memerankan figure orang lain, mereka tidak bisa memerankannya sampai 100 persen dari figure yang diperankannya.

Setiap manusia memiliki keunikan tersendiri dalam kepribadiannya, dan setiap profesi memiliki psikologi tersendiri yang sesuai untuk menjalankanya. Tentara, akademisi, politisi, jurnalis membutuhkan struktur kepribadian yang khas dan kompatibel untuk menjalankannya. Orang yang bersaudara kembar se-ibu dan se-bapak, satu daerah, satu sekolah, satu guru yang sama saja tidak mungkin memiliki kepribadian yang sama. Itulah mengapa dalam dunia intelijen dipelajari apa yang disebut dengan human intelijen. Satu bab khusus yang mempelajari masalah kepribadian, cara membacanya dan cara menyembunyikannya.

Dari segi kognitif, human intelijen mencoba membaca pola fikir, tingkat kecerdasan, wawasan serta ideology dari objek spionase. Dari segi emosional human intelijen memcoba membaca tekstur perasaan (lembut-kasar), kejujuran, sensitifitas, sadisme, kemampuan bergaul dari objek spionase. Dari segi motivasi human intelijen mencoba membaca keinginan, kekuatan ambisi, keberanian mengambil resiko. Dan ketahanan menghadapi tekanan. Dari segi biologis human intelijen mencoba membaca ketahanan fisik, ketahanan seksual, etos kerja, kebutuhan nutrisi makanan/minuman dsb. Semua itu dibaca secara rahasia demi mendeteksi hal-hal yang berpotensi membahayakan pertahanan dan ketahanan sebuah lembaga.

Karakter pribadi manusia terbentuk dari unsur dirinya baik secara fisik, biologis, intelektual, sosiocultural dan ekologis. Oleh karena itu, karakter pemikiran seseorang bisa dibaca dari pendidikan yang ia ikuti, buku yang ia baca, guru yang ia turuti dll. Karakter emosional seseorang bisa dibaca dari karakter turunan dari orang tuanya, kasih sayang yang didapat, lingkungan pergaulan yang ditempati, serta pengalaman emosinal selama ia hidup. Karakter motivasional dapat dibaca dari hobi yang digeluti, hal-hal yang dibenci/ditakuti, idola yang ia tiru, serta tuntutan kebutuhan yang ia harus penuhi. Karakter biologis bisa dibaca dari makanan/minuman yang ia biasa makan berikut porsinya, bentuk dan ukuran fisik, kemampuan mengangkat beban dan lain-lain. Semua factor-factor itu sangat berpengaruh juga secara akumulatif. Itulah mengapa biodata seseorang sangat penting menjadi pegangan bagi setiap agen pengintai (spionase).

Karakter pribadi manusia itu berdampak kepada tingkah laku dan tingkah laku itu berbalik mempengaruhi karakter kepribadian. Orang yang hatinya lembut akan berdampak pada kepedulian yang besar kepada nasib sesamanya, orang yang fikirannya cerdas akan nampak dari gaya komunikasi, pengambilan keputusan,  dan analisanya dalam berargumen. Orang yang motivasinya tinggi dapat dilihat dari kebesaran nyalinya. Dan orang yang daya tahan tubuhnya kuat akan nampak kepada kemampuannya dalam mengangkat beban fisik. Masih banyak contoh-contoh lain yang menunjukan bahwa prilaku manusia adalah pancaran jiwanya. Cukup untuk membaca bagaimana kepribadian seseorang, dan dari kepribadian itu bisa dibaca apa status sosialnya.

Itulah sebabnya mengapa wanita cerdik itu bisa membaca identitas Abdullah bin Qais (sang panglima) meskipun ia menyamar sebagai pedagang. Ia melihat melihat jiwa kepemimpinan dari salah seornag pedagang memberikan Sumbangan yang banyak meskipun tidak orangnya dikenal, diiringi ketulusan dan sopan santun yang memuliakan penerima. sifat kepemimpinan Saudagar itu terlihat dari kedermawanan dan kewibawaannya. Maka wanita itu dapat dengan mudah dan cepat menebak saudagar terebut adalah Abdullah Bin Qais yang sedang ia cari.

Kepemimpinan dalam satu tugas dan fungsinya adalah tarbiyah (pemelihara/pengurus). Dimana seorang pemimpin harus mampu mensejahterakan (memenuhi kebutuhan) wakyat/bawahannya, melindungi (memberi rasa aman dari bahaya), mendidik (membangun sumberdaya manusia yang beradab), menuntun (memberi araha ke jalan yang benar) dan lain sebagainya. Dengan tanggungjawab yang besar, dan bawahan/rakyat yang banyak maka seoranng pemimpin sudah terbiasa dan terlatih untuk memberi dan membangun wibawa yang tinggi.

Semakin banyak memberi, semakin banyak melindungi, semakin banyak mendidik dan semakin banyak menuntut, maka kewibawaan dan status kepemimpinannya di hadapan publik akan semakin kuat. dan dengan setatus kepemimpinan yang semakin kuat, maka naluri tarbiyahnya akan semakin tajam. Setiap seorang yang berjiwa pemimpin melihat orang yang lemah maka ia akan cepat iba dan cepat memberikan bantuan. Setiap yang berjiwa pemimpin itu melihat potensi bahawa maka ia akan cepat memberikan pengamanan, setiap sang peimpin itu melihat kebodohan, keterbelakangan danketersesatan, maka ia akan cepat memberikan pengajaran dan pengarahan sampai orang itu selamat.

Abdullah Bin Qais adalah panglima yang sangat penyayang kepada pasukannya, sampai sampi untuk tugas pengintaian (spionase) yang berbahaya saja ia melakukannya sendiri demi keselamatan anak buahnya. Ini sangat baik dari segi kasih sayang, tapi kurnag baik dari segi manajemen. Dalam perjalanan tugasnya sebagai pengintai, ia berhasil menyamarkan penampilannya sebagai seorang pedagang. Tapi ia tidak bisa menyamarkan karakternya yang yang berjiwa pemimpin. Ia sangat baik dan sangat dermawan, sedangkan kebanyakan pedagang tidak seperti itu. Itulah yang mengakibatkan penyamarannya gagal.

Demikianlah kedermawanan ini menjadi tanda dari sifat kepemimpinan.  Yang pertama, Kenyataan ini sangat berguna untuk kita sendiri apabila termasuk ornag yang berhasrat dan berkewajiban menjadi seorang pemimpin. Kita bisa terus melatihnya dengan lebih banyak dan semakin banyak bersedekah. Yang kedua adalah untuk keperluan pengembangan SDM, kita bis amenjadikan uji kedermawanan untuk mendeteksi potensi-potensi kepemimpinan yang bisa dikembangkan kepada anak-anak kita dan generasi penerus bangsa lainya. Sedangkan yang ketiga untuk keperluan intelijen politik (mempertahankan kekuasaan) kita orang-orang yangs edang berkuasa bisa mendeteksi secara cepat pihak pihak yang berportensi mengganggu atau merebut kekuasaan dari seberapa besar kedermawanan musuh-musuh politiknya.

KEPUSTAKAAN :

  1. Ash Salabi, Ali, Muhammad, Dr.| 2012 M. “Episode Krusial Sejarah Muawiyah Bin Abi Supyan” | Darul Haq : Jakarta.
  2. 2015 : Tehnik Penyamaran Intelijen | https://jurnalintelijen.net
  3. Green Robert. 2008 m. “48 Hukum Kekuasaan”. Penerbit Kharisma : Jogjakarta

 

Kota Wisata, 23 Februari 2020 M.

W.A.T.N

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Share Button