Oleh : Zakat Darussalam

 

“Mengapa engkau tega meninggalkan kami di sini?

Bagaimana kami bisa bertahan hidup?”

“Apakah ini perintah Tuhanmu?”

Ibrahim membalik tubuhnya, dan berkata tegas,

“Iya!”.

“Jikalau ini perintah dari Tuhanmu, pergilah, tinggalkan kami di sini. Jangan khawatir. Tuhan akan menjaga kami.”

Sepenggal percakapan ini mengiringi kepergian Nabi Ibrahim meninggalkan siti hajar dan anakanya Isma’il yang masih bayi. Ibrahim meninggaklan mereka di tengah padang pasir tanpa bekal bahan makanan dan air minum sedikitpun. Ibrahim meninggalkan Siti hajar dan Isma’il hanya dengan bekal keyakinan yang tertanam kuat, dan do’a yang tulus kepada Allah agar mereka selalui diberi perlindungan dan pemeliharaan.

Selalu ada interpretasi sosial dari setiap ibadah sosial. Ali Syari’ati mengatakan bahwa kisah ini mengandung nilai perjuangan pencarian. Dimana usaha seseorang harus dilakukan atas dasar keyakinan akan adanya rahmat Allah, atas dasar titah Illahi yang harus dilakukan bagaimanapun jua kondisinya, dan atas dorongan untuk mempertahankan kehidupan yang telah dikaruniakan.

Situasinya sangat tidak realistis, mencari mata air di tengah padang pasir. Tapi siti hajar terus belari mencari. Itulah yang disebut perjuangan atas dasar titah Illahi. Bahwa usaha yang dilakukan jangan memperhitungkan hasil. Tapi Allah tidak akan menerlantarkan usaha orang yang memaksimalkan potensinya.

Dalam kisah mata air zamzam ini  terdapat inspirasi ketahanan ekonomi dalam perjuangan dakwah. Lebih tepatnya ketahanan ekonomi keluarga dalam peninggala tugas jihad fi sabilillah.

Bukankah tidak sedikit cerita ibu rumahtangga dan anak-anaknya yang ditinggalkan suami/kepala keluarganya karena tugas jihad. Tugas jihad harus ditunaikan tapi keluarga juga harus diselamatkan. Itulah dilemanya. Kisah ini memberikan inspirasi yang banyak.

 

  1. Perencanaan Bisnis

 Ketika Siti Hajar kembali dan Nabi Ibrahim melanjutkan perjalanannya hingga ketika sampai pada sebuah bukit dan mereka tidak melihatnya lagi, Ibrahim menghadap ke arah Ka’bah lalu berdoa untuk mereka dengan mengangkat kedua belah tangannya, dalam doanya ia berkata, “Ya Tuhan kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati. Ya Tuhan kami (yang demikian itu) agar mereka mendirikan shalat, maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan beri rezekilah mereka dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur.”  (QS. Ibrahim: 37)

Do’a secara ritual adalah kalimat permohonan yang diajukan kepada Allah sembari menengadahkan tangan menghadap yang maha kuasa. Akan tetapi do’a secara aktual adalah niat dan rencana yang matang untuk melakukan sesuatu. Di ujung do’anya ibrahim memohon untuk diberikan rezeki dari buah-buahan. Maka aktualisasinya adalah ktia harus meniatkan, merencanakan mempersiapkan sebuah wirausaha/matapencaharian sebagai sumber rezeki bagi keluarga yang kita tinggalkan semasa perjuangan dakwah. Kita harus bertekad bahwa anak dan istri kita akan mendapat rezeki dari hasil usaha sendiri, bukan meminta-minta.

 

  1. Pencarian Tiada Henti

Meskipun niat sudah kuat, perencanaan bisnis sudah matang, tapi bisnis bukanlah hal mudah. Sangat sedikit orang yang mengawali bisnis dan langsung berhasil. Lihatlah siti hajar beberapa kali dia bolak balik dari bukit ke bukit, mencari bahan makanan di tengah padang pasir, mencari bantuan dari kabilah yang biasa lewat, dia tidak menemukan apapun sampai dia kehabisan tenaga. Meski dengan sedikit peluang yang ada tapi mencari makanan harus tetap dicoba dan dimulai oleh siti hajar, karena itu perintah Illahi untuk berikhtiyar.

Begitu juga bisnis, meski dengan peluang pasar yang sedikit, dan potensi yang minim, bisnis harus tetap dicoba dan dimulai. Karena ini kewajiban. tidak mudah menemukan bisnis yang cocok dengan kompetensi kita, tidak mudah menemukan usaha yang cocok dengan kondisi pasar, tidak mudah menemukan usaha yang maju berkembang sesuai iklim ekonomi yang ada. Tidak sedikit orang yang gagal berkali-kali, jatuh bangun merintis bisnis sampai akhirnya menemukan bisnis yang sukses hasil beratus-ratus kali evaluasi.

 

  1. Memanfaatkan Potensi Diri

Meskipun Siti hajar berlari lari mencari rezeki dari bukit shafa dan marwa, tapi mata air terpancar dari bawah tumit nabi Isma’il. Tempat mula ia berangkat, tempat nabi isma’il ditinggalkan untuk mencari makanan. Isyarat ini menandakan bahwa seberapapun kita mengikuti banyak pelatihan bisnis, mencari investor, membuka pasar dan sebagainya untuk membangun bisnis, bisnis harus dimulai dari potensi yang kita miliki.

Bisnis harus dimulai dari apa yang kita bisa (kompetensi diri). Apa yang kita punya (modal pribadi) pasar yang kita miliki (siapa orang terdekat) dan tempat yang kita punya (rumah sendiri). Dengan memaksimalkan kemampuan yang ada, maka semakin lama kemampuan kita semakin bertambah. Dengan memaksimalkan aset yang ada untuk dijadikan modal, maka semakin lama aset kita semakin bertambah. Dengan memaksimalkan modal keuangan yang kita miliki, maka semakin lama nilai saham kit asemakin tinggi. Dengan memaksimalkan jaringan pertemanan dan keluarga yang ada, lambat laun jaringan usaha kita akan semakin bertambah.

 

  1. Berbagi Lapangan Kerja

Setelah mata air memancar dari bawah tumit Isma’il, air semakin menggenang di tempat tersebut. Siti hajar kemudian meminumnya dan meminumkannya kepada Isma’il. Dengan nutrisi tersebut diti hajar juga bisa kembali menyusui nabi Isma’il. Karena mata genangan airnya semakin banyak, sekawanan burung berputas di langit atas tempat tersebut. Itu terjadi karena tabi’at dasar burung tersebut.

Beberapa kabilah yang sedang sama sama mencari mata air melihat sekawanan burung tersebut. Mereka tahu jika ada sekawanan burung berputar di langit, maka dibawahnya ada mata air yang terpancar. Kabilah tersebut kemudian mendatangi tempat siti hajar dan ikut serta mengambil air dari mata air tesebut. Siti hajar memperbolehkan mereka mengambil airnya tapi tidak mengizinkan mereka memiliki sumber mata air itu.

Begitu juga dengan bisnis kita, semakin lama bisnis itu semakin bermanfaat mengalirkan rezeki kepada keluarga kita. Semakin banyak orang yang berkumpul dan beraktivitas di rumah/perusahaan kita. Orang-orang yang membutuhkan lapangan kerja akan menyangka bahwa sebuah tempat yang dikerumuni banyak orang pasti mengandung sumber mata pencaharian yang layak (ada gula ada semut) istilahnya.

Akan banyak orang yang meminta kepada kita untuk ikut bekerja mengais rezeki di perusahaan kita. Jika sudah terjadi seperti itu, kit aboleh menseleksi. Apabila orangnya cukup layak dipekerjakan maka kita bisa merekrutnya, apabila tidak cukup layak maka kita perlu membantunya saja dengan sumbangan lepas.

Inilah beberapa isnpirasi yang bisa kami paparkan sebagai ibrah dari kisah besar yang mendasari sebuah ritual pada ibadah wajib ummat Islam. Masih banyak ibrah yang bisa kita gali dari kita. Selama kita peka dan mau mencari karunia Allah dalam peristiwa tersebut. Semoga bis amemberi semangat dan manfaat bagi kita semua untuk senantiasa berikhtiyar tiada henti untuk mensyukuri hidup yang dikaruniakan oleh Allah kepada kita semua.

 

KEPUSTAKAAN

  1. El-Fikri, 2017 “Sa’i adalah Pencarian” | Jurnal Islam Digest. www.republika.co.id
  2. Bin Musa, 2013 . “kisah nabi ismail alaihissalam bagian-1” | Kisah pilihan. https://kisahmuslim.com

 

 

Kota Wisata, 17 Februari 2020 m

(W.A.T.N)

 

 

 

 

Share Button