Apa yang harus diinfakkan?

Oleh : Sayid Qutub

Dan mereka bertanya kepadamu apa yang mereka nafkahkan. Katakanlah: ‘Yang lebih dari keperluan.’ Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu supaya kamu berfikir, (QS. Al-Baqarah: 219)

Suatu kali mereka bertanya tentang apa yang mereka infakkan maka jawabanya ialah tentang macam dan sasaranya. Sedangkan, di sini jawabannya adalah tentang ukuran dan tingkatnya. “Al Afwu” adalah kelebihan dan tambahan. Maka, apa yang merupakan kelebihan dari nafkah terhadap diri sendiri dengan tidak berlebih lebihan dan bermegah-megahan terkena perintah infak atau nafkah. Yaitu, kepada orang yang paling dekat hubungannya dengan dia, kemudian yang dekat lagi, lalu kepada yang lain dan seterusnya seperti yang sudah kami kemukakan.

Zakat saja belum memadai. Maka, nash ini tidak dinasakh oleh ayat zakat dan tidak dikhususkannya menurut pendapat saya. Zakat tidak membebaskan tanggungan (infak). Ia hanya menggugurkan kewajiban saja (yang berupa zakat yang sudah ditunaikan), dan pengarahan kepada infaq masih terus berlaku.

Sesungguhnya, zakat adalah hak baitulmal kaum muslimin yang diurusi oleh pemerintah yang melaksanakan syari’at Allah, dan mendistribusikannya sesuai dengan sasaran-sasaran yang sudah dimaklumi. Sesudah itu, masih ada kewajiban orang muslim terhadap Allah dan terhadap hamba-hamba Allah.

Zakat itu kadang-kadang tidak meliputi seluruh kelebihan harta. Sedangkan seluruh kelebihan itu menjadi sasaran perintah infak berdasarkan nash yang jelas ini, dan berdasarkan sabda Rasulullah SAW. : “Pada harta terdapat kewajiban selain zakat. ”.  

Kewajiban yang kadang-kadang ditunaikan pemiliknya karena mencari keridhaan Allah. Inilah yang paling sempurna dan paling bagus. Kalau ia tidak melakukannya, dan pemerintah Islam yang melaksanakan syari’at Allah memerlukannya, maka pemerintah dapat memungut dan membelanjakannya untuk kemaslahatan kaum muslimin. Hal itu dilakukan sesudah harta itu tidak habis dalam kemewahan yang meursah, atau ditahannya dan disimpannya menjadi sia-sia.

“Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu supaya kamu berfikir tentang dunia dan akhirat”.

Penerangan ini untuk memfokuskan fikiran dan perhatian kepada perso’alan dunia dan akhirat. Memikirkan dunia saja tidaklah memberikan kepada akal dan hati manusia gambaran yang lengkap tentang hakikat kehidupan dan tugas tugasnya serta jalinan-jalinannya. Juga tidak dapat menumbuhkan gambaran yang benar tentang peratusan-peraturan, nilai-nilai, dan timbangan-timbangan.

Masalah infak itu sendiri memerlukan perhitungan dunia dan akhirat. Maka, tidaklah berkurang harta seseorang karena diinfakkan dengan hati yang bersih dan perasaan yang suci. Infak juga digunakan untuk memperbaiki masyarakat yang dia hidup di tengah-tengah mereka dengan aman dan damai.

Akan tetapi, semua ini kadang-kadang tidak mendapatkan perhatian dari setiap orang. Pada saat itu, kesadaran terhadap akhirat dengan segala balasan-balasannya, tatanilai dan timbangannya, lebih berat daripada daun timbangan infak. Hati menjadi tenteram, tenang, dan istirahat, tegaklah timbangan di tangan-nya dengan adil sehingga dia tidak mengutamakan nilai-nilai palsu dan kamuflase.

Tafsir surah AL Baqarah Ayat 219

Dalam FI Dhilaalil Quran

#YayasanDarussalamKotaWisata
#ZakatDarussalamKotaWisata