BERSAMA ZAKAT EKONOMI KUAT

oleh : Zakat Darussalam

Zakat merupakan pilar yang sangat penting dalam ajaran islam dan menjadi salah satu dari lima rukun islam. Namun demikian, masih banyak diantara kita yang belum memahami secara penuh mengenai konsep ibadah zakat ini. Oleh karena itu, dalam kesempatan pagi ini kami akan mengawali dengan satu konsep yang disebut dengan “Maqaashid Az Zakat” (Tujuan Disyari’atkannya Zakat).

Tujuannya tidak lain dan tidak bukan agar kita memiliki pemahaman yang benar dan utuh tentang zakat serta diharapkan akan memunculkan kesadaran bahwa ibadah zakat bukan hanya sekedar kewajiban. Tetapi kita akan memiliki paradigma persepsi bahwa zakat merupakan kebutuhan kita. Sebab, ketika menganggap zakat hanya sebagai kewajiban dan beban, maka begitu telah menunaikan kewajiban tersebut, selesai sudah. Tetapi jika menganggap zakat sebagai sebuah kebutuhan, maka ini akan menumbuhkan perasaan untuk senantiasa melaksanakan ibadah zakat semaksimal mungkin karena merupakan kebutuhan kita.

Jika kita merujuk kepada nash-nash alquran dan as sunnah terkait zakat, kita akan mendapatkan paling tidak tiga dimensi dari tujuan disyariatkannya zakat. Yaitu dimensi keimanan, social dan dimensi ekonomi.

  1. Dimensi Keimanan

Allah Ta’ala berfirman,

خُذْ مِنْ أَمْوَالِهِمْ صَدَقَةً تُطَهِّرُهُمْ وَتُزَكِّيهِم بِهَا وَصَلِّ عَلَيْهِمْ إِنَّ صَلاَتَكَ سَكَنٌ لَّهُمْ وَاللّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ (التوبة: 103)

“Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka dan mendoalah untuk mereka. Sesungguhnya doa kamu itu (menjadi) ketenteraman jiwa bagi mereka. Dan Allah Maha mendengar lagi Maha Mengetahui”. (At Taubah: 103)

Kenapa kita harus menunaikan ibadah zakat? Karena orientasi pertama dari ibadah zakat adalah proses penyucian terhadap harta dan jiwa, terhadap apa yang kita miliki dan hasilkan. Dan kita tahu bahwa proses penyucian ini berarti kita melakukan verifikasi secara terus menerus terhadap harta dan jiwa. Dan ini adalah hakikat daripada jalan tazkiyah. Sebab, setiap manusia mempunyai dua potensi; potensi keburukan dan kebaikan. Potensi mana yang lebih dominan diantara keduanya, itu bergantung pada jalan apa yang ditempuh, apakah jalan penyucian atau jalan pengotoran.

Melalui zakat, diri kita akan dibersihkan dari berbagai macam dosa ruhiyah, seperti dosa syirik.

وَوَيْلٌ لِّلْمُشْرِكِينَ{6} الَّذِينَ لَا يُؤْتُونَ الزَّكَاةَ وَهُم بِالْآخِرَةِ هُمْ كَافِرُونَ

“….Dan kecelakaan besarlah bagi orang-orang yang mempersekutukan-Nya. (yaitu) orang-orang yang tidak menunaikan zakat dan mereka kafir akan adanya (kehidupan) akhirat”. (Fusshilat: 6-7)

Dalam ayat ini dikatakan, orang-orang yang tidak menunaikan zakat disebut orang-orang musyrik. Dan memang Ibnu Katsir Rahimahullahu menyatakan bahwa orang yang tidak menunaikan zakat otomatis langsung masuk kategori syirik. Namun setidaknya, ayat di atas memberikan gambaran bahwa orang yang enggan mengeluarkan zakat berpotensi menjerumuskan ke dalam dosa besar yang tidak diampuni. Sebab itu, disaat sebagian kaum muslimin pada zaman khalifah Abu Bakar Ash Shiddiq Radhiallahu Anhu menolak membayar zakat, beliau memarahi mereka dan bahkan memerangi mereka.

Hal ini menunjukkan bahwa posisi zakat sangat penting. Banyak manfaat zakat, diantaranya dapat membersihkan diri dari sifat bakhil, egois, memunculkan sikap empati sehingga ada kedekatan dengan sesama manusia dan muncul sikap kepedulian antar sesama.

Pada dasarnya orang yang suka mengeluarkan zakat adalah orang-orang produktif. Dan Allah Ta’ala menyatukan antara shalat khusyu’, mengeluarkan zakat dan poduktifitas sebagai satu kesatuan ciri-ciri orang mukmin yang beruntung.

قَدْ أَفْلَحَ الْمُؤْمِنُونَ{1} الَّذِينَ هُمْ فِي صَلَاتِهِمْ خَاشِعُونَ{2} وَالَّذِينَ هُمْ عَنِ اللَّغْوِ مُعْرِضُونَ{3} وَالَّذِينَ هُمْ لِلزَّكَاةِ فَاعِلُونَ{4}

“Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman. Yaitu orang-orang yang khusyu’ dalam sembahyangnya. Dan orang-orang yang menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan) yang tiada berguna. Dan orang-orang yang menunaikan zakat”. (Al Mu’minun: 1-4)

Maksudnya, Ibadah zakat ingin membuat kita menjadi umat yang produktif, umat yang melakukan apapun karena Allah, umat yang didalam mencari nafkah senantiasa berorentasi pada kebutuhan harta  halal lagi thayyib.

Dari Abu Hurairah  Radhiallahu Anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّ اللَّهَ طَيِّبٌ لاَ يَقْبَلُ إِلاَّ طَيِّبًا

“Wahai sekalian manusia, sesungguhnya Allah itu thoyyib (baik). Allah tidak akan menerima sesuatu melainkan dari yang thoyyib (baik).“ (HR. Muslim)

Sedekah Dengan Harta Haram

Mengenai sedekah dengan harta haram, maka bisa ditinjau dari tiga macam harta haram berikut:

1- Harta yang haram secara zatnya. Contoh: khomr, babi, benda najis. Harta seperti ini tidak diterima sedekahnya dan wajib mengembalikan harta tersebut kepada pemiliknya atau dimusnahkan.

2- Harta yang haram karena berkaitan dengan hak orang lain. Contoh: HP curian, mobil curian. Sedekah harta semacam ini tidak diterima dan harta tersebut wajib dikembalikan kepada pemilik sebenarnya.

3- Harta yang haram karena pekerjaannya. Contoh: harta riba, harta dari hasil dagangan barang haram. Sedekah dari harta jenis ketiga ini juga tidak diterima dan wajib membersihkan harta haram semacam itu. Namun apakah pencucian harta seperti ini disebut sedekah? Para ulama berselisih pendapat dalam masalah ini. Intinya, jika dinamakan sedekah, tetap tidak diterima karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لاَ تُقْبَلُ صَلاَةٌ بِغَيْرِ طُهُورٍ وَلاَ صَدَقَةٌ مِنْ غُلُولٍ

Tidaklah diterima shalat tanpa bersuci, tidak pula sedekah dari ghulul (harta haram)”. (HR. Muslim)

Ghulul yang dimaksud di sini adalah harta yang berkaitan dengan hak orang lain seperti harta curian. Sedekah tersebut juga tidak diterima karena alasan dalil lainnya yang telah disebutkan, “Tidaklah seseorang bersedekah dengan sebutir kurma dari hasil kerjanya yang halal melainkan Allah akan mengambil sedekah tersebut dengan tangan kanan-Nya lalu Dia membesarkannya sebagaimana ia membesarkan anak kuda atau anak unta betinanya hingga sampai semisal gunung atau lebih besar dari itu”. (HR. Muslim).

Adapun bersedekah dengan harta yang berkaitan dengan hak orang lain (barang curian, misalnya), maka Ibnu Rajab membaginya menjadi dua macam,

1- Jika bersedekah atas nama pencuri, sedekah tersebut tidaklah diterima, bahkan ia berdosa karena telah memanfaatkannya. Pemilik sebenarnya pun tidak mendapatkan pahala karena tidak ada niatan dari dirinya. Demikian pendapat mayoritas ulama.

2- Jika bersedekah dengan harta haram tersebut atas nama pemilik sebenarnya ketika ia tidak mampu mengembalikan pada pemiliknya atau pun ahli warisnya, maka ketika itu dibolehkan oleh kebanyakan ulama di antaranya Imam Malik, Abu Hanifah dan Imam Ahmad.  Lihat Jaami’ul ‘Ulum wal Hikam, 1: 264-268.

Jadi, esensi dari gerakan zakat adalah bagaimana kita merubah perilaku umat untuk semakin produktif, keimanannya semakin kuat, empati sosialnya semakin meningkat sehingga kita akan mampu melakukan perubahan yang signifikan.

2. Dimensi Sosial

Ayat 103 dari surah At Taubah ada perintah untuk mendoakan para munfiq (pemberi sedekah) dan muzakki (pemberi zakat). Karena doa ini sangat dibutuhkan.

Lalu apa yang menarik? Allah Ta’ala menggunakan frasa “سكن لهم” (ketenteraman jiwa bagi mereka). Maksudnya, diantara orientasi zakat adalah bagaimana caranya agar memunculkan struktur masyarakat yang harmonis dan sakinah. Dimana di dalamnya terdapat pribadi-pribadi yang sakinah, sehingga akan mewujudkan bangsa dan Negara yang sakinah.

Siapa yang disebut dengan pribadi yang sakinah? Pribadi sakinah adalah mereka yang punya ketajaman hati dan pikiran sehingga mampu mengatasi berbagai macam persoalan.

Oleh karena itu, orientasi ibadah zakat antara lain adalah bagaimana menciptakan tatanan struktur masyarakat yang secara social menjadi harmonis.

Sebuah penelitian menyatakan bahwa jika orang-orang kaya tidak mau berbagi, maka akan menstimulasi peningkatan angka kriminalitas. Dan jika tingkat kejahatan di suatu masyarakat itu tinggi, maka akan menciptakan satu fenomena yang disebut dengan ketidak percayaan social. Dan jika fenomena itu terjadi, maka masyarakat akan mudah saling berburuk sangka sehingga masyarakat mudah dipecah belah dan di adu domba.

Jadi, kalau ingin menurunkan angka kriminalitas, maka salah satu cara yang paling efektif adalah mengembangkan system distribusi ekonomi yang berkeadilan. Ada aliran kekayaan dari kelompok yang mampu untuk kelompok yang tidak mampu. Sebab itu, islam menciptakan satu mekanisme yang menjamin aliran kekayaan dari kelompok kaya kepada kelompok miskin.

3. Dimensi Ekonomi

Ada banyak ayat dalam alquran dan alhadits yang mengaitkan antara zakat dengan dimensi ekonomi.

وَمَا آتَيْتُم مِّن رِّباً لِّيَرْبُوَ فِي أَمْوَالِ النَّاسِ فَلَا يَرْبُو عِندَ اللَّهِ وَمَا آتَيْتُم مِّن زَكَاةٍ تُرِيدُونَ وَجْهَ اللَّهِ فَأُوْلَئِكَ هُمُ الْمُضْعِفُونَ (الروم: 39)

Dan sesuatu riba (tambahan) yang kamu berikan agar dia bertambah pada harta manusia, Maka riba itu tidak menambah pada sisi Allah. Dan apa yang kamu berikan berupa zakat yang kamu maksudkan untuk mencapai keridhaan Allah, maka (yang berbuat demikian) itulah orang-orang yang melipat gandakan (pahalanya)”. (Ar Rum: 39)

Ayat ini berisi tentang komparasi yang Allah berikan antara dua instrument yang secara nalar dan logika manusia bertolak belakang. Yaitu riba dan zakat.  Riba atau bunga yang seolah-olah menambah harta di sisi manusia, namun disisi Allah sama sekali tidak bertambah. Sementara zakat yang seolah-olah mengurangi harta manusia, namun di sisi Allah Ta’ala justru akan bertambah dan berlipatganda.

Hal ini menggambarkan bahwa dalam perspektif ekonomi, zakat bisa menjadi instrument untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi. Sementara bunga justru instrument yang berbanding terbalik menurunkan pertumbuhan ekonomi.

Diantara Dampak Buruk Bunga Terhadap Ekonomi

Pertama, bahwa bunga berbanding lurus dengan inflasi. Inflasi adalah suatu keadaan dimana harga barang secara umum mengalami kenaikan secara terus menerus atau terjadi penurunan nilai uang dalam negeri. Naiknya harga barang bukan hanya satu barang dan bukan dalam tempo sesaat. Sementara Inflasi terjadi akibat ulah tangan manusia.

Kedua, bahwa bunga berbanding terbalik dengan satu indeks yang berfungsi untuk mengukur berapa pertumbuhan produksi. Dengan kata lain bunga berpengaruh terhadap investasi, produksi dan terciptanya pengangguran. Semakin tinggi suku bunga, maka investasi semakin menurun. Jika investasi menurun, produksi juga menurun. Jika produksi menurun, maka akan meningkatkan angka pengangguran.

Sedangkan zakat yang dikeluarkan justru akan menstimulasi pertumbuhan ekonomi. Contoh sederhana, di suatu wilayah tinggal di dalamnya 10 orang. Namun yang mampu berbelanja dan kaya hanya satu orang, sementara lainnya miskin. Kira-kira jika Anda datang dan menjual pakaian di tempat tersebut, berapa banyak yang membeli pakaian Anda? Hanya satu. Tapi coba bayangkan, jika si kaya tadi mau berbagi dengan 9 orang lainnya, sehingga menjadi mampu untuk membeli pakaian. Maka sekarang, berapa banyak Anda bisa menjual pakaian? Pasti lebih dari satu pakaian.

Artinya, terjadi peningkatan penjualan. Kalau terjadi peningkatan penjualan, berarti ada permintaan barang lebih banyak sehingga harus memproduksi lebih banyak, dan otomatis membutuhkan tenaga kerja lebih banyak. Walhasil ekonomi akan tumbuh dan berkembang.

Demikianlah kenapa Allah Ta’ala mengaitkan zakat sebagai instrument pertumbuhan ekonomi bahkan menjadi anti tester terhadap system ribawi dan kapitalisme. Allah Ta’ala berfirman,

يَمْحَقُ اللّهُ الْرِّبَا وَيُرْبِي الصَّدَقَاتِ وَاللّهُ لاَ يُحِبُّ كُلَّ كَفَّارٍ أَثِيمٍ (البقرة: 276)

“Allah memusnahkan riba dan menyuburkan sedekah. dan Allah tidak menyukai setiap orang yang tetap dalam kekafiran, dan selalu berbuat dosa”. (Al Baqarah: 276)

Setelah kita memahami tujuan disyareatkannya zakat dan mengetahui efek zakat terhadap keimanan, ketakwaan, kondisi social dan situasi ekonomi. Pertanyaannya sekarang adalah, “Apa pandangan kita terhadap zakat? Apakah ia hanya sekedar kewajiban atau kebutuhan?? Menurut kami zakat merupakan sebuah kebutuhan bukan hanya sekedar kewajiban.

Mari kita tunaikan zakat dari setiap harta yang kita miliki, dari setiap emas yang kita dapatkan, dari  setiap investasi produktif yang kita lakukan, dari setiap surat berharga yang kita miliki, dari setiap obligasi dan sukuk yang kita punya, dari setiap saham yang kita miliki, dari setiap jenis produksi barang dan jasa yang kita punya, dari pekerjaan yang menghasilkan atau jasa service yang mendapatkan income. Kita keluarkan zakat dari semua itu. Kita bersihkan harta dan jiwa kita sehingga Allah Ta’ala akan meberikan rahmat dan pertolongan-Nya kepada kita semua. Jangan sampai kita menghadap Allah Ta’ala dalam keadaan belum pernah mengeluarkan harta zakat.

Wallahu Ta’ala A’lam

 

READ MORE

UJIAN SEBAGAI TANGGA KEMULIAAN

 

Oleh: Zakat Darussalam

“Inna ma’al-‘usri yusrā” (QS. Al-Insyirah: 06)

Begitu singkat Allah SWT berfirman. Dia memberi isyarat kepada hamba-Nya bahwa kesulitan dalam perjuangan merupakan rangkaian proses menuju perubahan situasi yang lebih baik. “Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.”

Sebuah sunnatullah yang pasti terjadi. Allah membangun kenikmatan dengan melengkapi segala kesulitan yang dialami manusia dengan kemudahan sebagai balasan atas kesabaran. Seperti halnya hidangan penutup yang manis-manis setelah hidangan berat yang pedas dan penuh lemak.

Kemudahan dalam hidup terjadi apabila Allah mengizinkan ( bi idznillah) dan menolong ( bi aunillah) terhadap segala usaha kita. Selanjutnya, usaha menjadi lancar ketika semua manusia mendukung dan membantu. Dengan pertolongan Allah dan dukungan manusia maka alam akan mendukung dan semakin mengondisikan sebuah kemenangan.

Pertolongan Allah bisa diraih jika kita memiliki tempat terdekat di sisi-nya. Sedangkan dukungan diperoleh jika kita memiliki kedudukan tertinggi di hadapan-Nya. Suatu puncak prestasi sebagai hamba/abid dan juga sebagai khalifah fil Ardh.

Dengan posisi itu, manusia mendapatkan kedudukan yang mulia, baik di hadapan Allah maupun di hadapan manusia dan semesta.

Manusia akan sangat disayang oleh Allah Dzat Yang Maha Kuasa, dan akan dicintai oleh seluruh umat manusia.

Tidak satu pun permohonan yang akan ditolak oleh Allah, dan tidak satu pun perintah yang akan dibantah oleh manusia. Satu posisi yang membuat manusia sangat mudah melakukan apa yang harus dikerjakan dan mendapatkan segala apa yang diinginkan.

Akan tetapi, seperti yang diisyaratkan dalam ayat di atas, untuk mencapai kemudahan itu, manusia harus melalui berbagai kesulitan. Sebagai bumbu penyedap yang menambah kenikmatan dan hiasan pelengkap yang menambah keindahan hidup.

Nabi Ibrahim adalah salah seorang yang mendapatkan kedudukan itu. Di hadapan Allah, ia adalah seorang kekasih yang sangat dicintai oleh Allah SWT. Ia dijuluki Khalilullah yang artinya sang kekasih Allah. Sedangkan di hadapan menusia, dia adalah pemimpin tertinggi.

Dalam sebuah firman Allah disebutkan,

“Innii ja’iluka Linnasi Imaama.”

Allah mengangkatnya sebagai pemimpin di atas seluruh ummat manusia.

Meski begitu, kedudukan itu diberikan setelah Nabi Ibrahim berhasil lulus dari beberapa ujian, yang semuanya mengandung berbagai kesulitan dan kepedihan.

“Waidzibtalaa ibrahiima Rabbuhu bi kalimatin, fa atammahunna.”

“Dan (ingatlah) ketika Ibrahim diuji Tuhannya dengan beberapa kalimat (perintah dan larangan), lalu Ibrahim menunaikannya.” (QS. Al-Baqarah: 124)

Suatu ujian yang membangun jiwa dan memberi jalan Nabi ibrahim menjadi kapabel dan qualified untuk memegang tugas-tugas kepemimpinan umat manusia.

Kalimat yang diujikan kepada nabi ibrahim berisi hukum Allah yang meliputi perintah dan larangan dalam hidup. Ibrahim berhasil menunaikannya secara sempurna. Ibrahim memiliki kualitas diri semakin unggul dengan menjiwai seluruh KalimatuIllah dalam dirinya, dan Ibrahim berhasil menegakkan syariat agama tauhid dalam tatanan masyarakat.

Allah mencintainya dan memberikan hadiah terindah kepadanya berupa kemuliaan.

Dalam Tafsirnya, Ibnu Katsir, mengutip riwayat Ibnu Jarir dari Qatadah, ia menceritakan, Al-Hasan Al-Bashri pernah menuturkan, “Demi Allah, Allah telah menguji Ibrahim dengan suatu masalah, lalu ia bersabar atasnya. Diuji dengan bintang, matahari dan bulan, dan ia mampu melampauinya dengan baik. Ia tahu bahwa Rabbnya tidak akan pernah lenyap, kemudian dia mengarahkan wajahnya kepada Rabb yang menciptakan langit dan bumi dengan cenderung kepada agama yang benar dan dia bukan dari golongan orang-orang musyrik. Setelah itu, Allah mengujinya dengan hijrah, yang mana ia pergi dari negeri dan kaumnya dengan niat hijrah karena Allah Ta’ala, hingga dia pun sampai ke Syam. Kemudian dia diuji dengan api (yaitu dibakar) sebelum hijrah, dia pun menghadapinya dengan penuh kesabaran. Selain itu, Allah memerintahkan menyembelih putranya (Ismail), dan berkhitan, lalu ia pun bersabar atasnya.”

Itulah kesulitan yang dihadapi oleh Nabi Ibrahim dan berhasil ia selesaikan dengan tuntas. Kesulitan yang begitu besar menuntut pengerahan seluruh potensi diri secara maksimal, mengorbanan jiwa dan harta, meninggalkan saudara dan keluarga. Sebanding dengan kemudahan yang ia dapat, sebuah kedudukan tertinggi sebagai kekasih Allah dan sebagai imam bagi seluruh ummat manusia.

Ratusan tahun Nabi Ibrahim menjalani ujian itu, sebanding dengan usia kepemimpinannya yang mencapai ribuan tahun dan meliputi seluruh bangsa. Namanya disebut dalam setiap bacaan tahiyat dalam shalat kaum muslimin, diakui sebagai rasul serta tercatat dalam kitab seluruh agama samawi. Nama yang sangat besar dan sosok yang sangat melegenda melebihi bintang-bintang dunia yang pernah ada saat ini.

Banyak dari kita sangat sederhana menginterpretasi ayat itu (Al-Insyirah: 6). Padahal Nabi Ibrahim sendiri berdarah-darah, berderai air mata menjalaninya.

Kita sering menafsir ayat itu bahwa ada ifthar setelah shaum, ada turunan setelah tanjakan, ada bonus setelah bekerja keras, ada kesuksesan setelah jatuh bangun. Padahal makna kesulitan dalam ayat itu adalah kerasnya perjuangan, terjalnya jalan menegakkan syariat Allah di muka bumi.
Menegakkan kalimat laa ilaaha Illallah itu bertaruhkan nyawa. Sedangkan kemudahan yang dimaksud adalah tempat terdekat di sisi Allah dan kedudukan tertinggi di hadapan manusia.

Mungkin kita minder dan merasa tidak percaya diri mengikuti jejak Nabi Ibrahim. Padahal, Nabi Ibrahim sendiri sudah meminta kepada Allah agar ujian yang besar dan kedudukan yang tinggi itu juga diwariskan kepada keturunannya. qāla wa min żurriyyatī, qāla lā yanālu ‘ahdiẓ-ẓālimīn. Keturunan secara bilogis, ataupun keturunan secara ideologis sebagai orang yang sama sama membawakan tugas risalah.

“Ibrahim berkata: “(Dan saya mohon juga) dari keturunanku”. Allah berfirman: “Janji-Ku (ini) tidak mengenai orang yang zalim”

Doa Nabi Ibrahim terkabul dengan diuji dan diangkatnya rasul keturunannya yang menjadi penguasa besar dunia. Nabi Yusuf, As menjadi Raja Mesir setelah beliau tetap sabar dianiaya saudara-saudaranya, difitnah dipenjara oleh sang raja.

Setelah itu, ada Nabi Musa As. Menjadi raja bani Israil setelah diuji untuk melawan Fir’aun, berhijrah dan berperang melawan bangsa Palestina dan dia tetap sabar.

Nabi Daud As. menjadi raja juga setelah berani bertarung melawan Jalut dan berhasil mewujudkan kedilan sosial pada ummatnya. Masih banyak kisah rasul keturunan Nabi Ibrahim yang sabar dalam ujian dan akhirnya dianugerahi kemenangan dan kejayaan termasuk Nabi Sulaiman As.

Sebagai keturunan Ideologis, yang jauh masa kehidupannya dengan nabi Ibrahim dan bukan dari keturunan para rasul maupun khalifah, adalah Daulah Mamluk. Kerajaan yang dibentuk dari kaum budak terpelajar. Yang dipekerjakan di istana membantu para tuannya dalam menjalankan pemerintahan. Para budak itu terdidik secara agama, terlatih secara militer dan terasah secara politik. Sehingga pada suatu saat negeri Mesir di ambang kejatuhan dari hancurnya Daulah Ayubiyah. Para budak itu berhasil mengambil alih pemerintahan dan menyelamatkan kekuasaan Islam dari ekspansi bangsa Mongol. Berdiri hingga 250 tahun dan tercatat sebagai penyelamat umat Islam di abad pertengahan.

Sudahlah cukup bukti bahwa orang orang yang berhasil menunaikan ujian (kalimatillah) yang berisi perintah dan larangan Allah, dapat mencapai puncak kejayaannya menjadi orang yang berkedudukan tinggi di hadapan manusia dan terdekat di sisi Allah.

Maka yang terakhir dapat disimpulkan bahwa makna kesulitan sebagai ujian di sini juga berarti kesusahpayahan dalam mengimplementasikan hukum tauhid. Dan kemudahan sebagai kemuliaan akan datang dengan bentuk kekuasaan yang tinggi dan peradaban yang mulia. Tidak sembarang kesusahan bisa berbuah kemudahan. Sebab tanpa menegakkan hukum Allah, kesengsaraan akan senantiasa meliputi diri kita.

Tiada jalan lain selain menjalani menegakkan syariat Islam untuk mencapai kejayaan Ummat Islam.

(W.A.T.N)

KEPUSTAKAAN
1. QS. Al-Insyirah: 6
2. Qs. Al Baqarah: 124
3. Tafsir Ibnu Katsir tentang Surat Al-Baqarah: 124
4. Qs. Shaad: 21 – 26 Tentang Kisah Nabi Daud.
5. Sejarah Daulah Mamluk dalam Sejarah Bangsa Tartar: Raghib As-Sirjani

READ MORE

Kedermawanan tanda Kepemimpinan

Oleh : Zakat Darussalam
======================================================================

“Bagaimana kamu mengetahui bahwa itu adalah Abdullah?”

Kemudian dia (wanita) itu menjawab :

“Dia berlaga seperti seorang pedagang. Tapi ketika aku meminta kepadanya, dia memberiku layaknya seorang raja. Maka akupun tahu itu adalah Abdullah bin Qais”.

Abdullah Bin Qais Al-Jasi nama lengkapnya. Beliau adalah panglima pasukan Kekhalifahan Islam yang diutus oleh Gubernur Muawiyah bin Abi Sufyan untuk menjaga perbatasan antara wilayah Kekhalifahan Islam dengan wilayah kekuasaan Imperium Romawi. Abdullah bin Qais adalah pimpinan pasukan yang memiliki sifat penyayang. Sebagai bukti kesayangannya, dia pernah melakukan tugas yang berat dan berbahaya sendirian tanpa menugaskan anak buahnya. Dia juga berdo’a kepada Allah agar selalu mengaruniakan keselamatan kepada pasukannya dan agar tidak mengujinya dengan musibah yang menimpa salah seorang dari mereka.

Pada suatu hari, ia melakukan tugas pengintaian di sebuah pelabuhan kecil di daerah kekuasaan Romawi. Untuk memuluskan tugas pengintaiannya tersebut, ia menyamar sebagai seorang pedagang. Ketika ia keluar dari sampannya, ia mendapati para pengemis yang mencegat orang-orang yang lalu lalang. Karena difat kedermawanannya, Abdullah bin Qais kemudian bersedekah kepada mereka. Diantara para pengemis itu terdapat seorang wanita yang cerdik. Wanita itu bisa mengetahui bahwa yang memberikan sedekah kepadanya adalah Abdullah bin Qais, meskipun ia telah menyamar sebagai pedagang.

Setelah ia mengetahui bahwa salah satu yang memberi sedekah adalah abdullah bin Qais, ia kemudian pulang dan melaporkan kepada para pemuda warga setempat yang juga sedang menjaga kawasan itu dari ekspansi pasukan Islam. Abdullah bin Qais sudah diketahui kedudukannya sebagai pimpinan pasukan tentara Islam. Dan para pemuda itu sangat berniat membunuhnya. “adakah kalian yang beminat kepada (membunuh) Abdullah bin Qais” wanita itu bertanya. “Dimana ia berada?” para pemuda itu balik bertanya. “di pelabuhan” jawab wanita itu sambil menunjukannya kepada pawa pemuda itu. Kemudian para pemuda itu mendatangi Abdullah bin Qais dan menyerangnya. Abdullah bin Qais pun melawan mereka sendirian. Akan tetapi akhirnya Ia tetap terbunuh.

Setelah para pemuda itu berhasil membunuh Abdullah bin Qais, para pemuda itu salut kepada wanita cerdik yang bisa mengetahui identitas Abdullah bin Qais dalam penyamarannya. Mereka bertanya kepada wanita itu. “darimana kamu mengetahui bahwa dia adalah Abdullah?” wanita itu menjawab “ dia berlaga seperti seorang pedagang, tapi ketika aku meminta kepadanya, ia memberiku layaknya seorang raja. Dari situlah aku mengetahui bahwa dia adalah Abdullah bin Qais”. Wanita itu melihat ada tanda-tanda kepemimpinan pada diri pedagang. Maka iapun memastikan bahwa ia adalah pimpinan pasukan kaum muslimin yang menggetarkan nyali musuhnya di wilayah tersebut. (Ash-Shalabi : 2012 M.)

Saya menduga wanita itu adalah seorang mata-mata (pengintai) juga yang menyamar sebagai seorang pengemis. Ia ditempatkan di wilayah itu untuk menjaga perbatasan. Apabila ditemukan hal hal yang membahayakan maka wanita itu harus segera melaporkannya kepada yang berwenang melakukan tindakan.

Kegiatan memata-matai dalam istilah popular disebut spionase dan penyamarannya disebut kamuflase. Adapun orang yang melakukannya disebut agen. Itu merupakan hal yang harus ada dalam dunia intelijen karena bekaitan dengan pertahanan dan keamanan sebuah lembaga. Spionase merupakan kegiatan mencari informasi penting mengenai identitas asli, kekuatan strategi dan apapun yang penting yang dari musuh.  Sedangkan kamuflase adalah upaya menyembunyikan identitas diri ketika melakukan kegiatan spionase agar tidak diketahui/tertanggulangi oleh musuh. Disini seorang agen dituntut untuk sepandai-pandainya mencari informasi dari musuh dan serapat-rapatnya menyembunyikan identitas/informasi dari pihak lembaganya.

Dalam studi kamuflase (penyamaran) yang lebih dalam, segala hal tentang diri agen harus sedapat mungkin dirahasiakan. Salah satu caranya adalah False Dating (Pemalsuan data). Dalam upaya pemalsuan data segala hal tentang diri disamarkan, Orang yang namanya Riko diganti nama dengan Ronald, orang yang profesinya agen harus bisa berperan sebagai profesi lain seperti petani, guru atau apapun yang tidak mencurigakan. Asal negara, latar belakang hidup dan silsilah keluarga dan segala hal tentang diri harus dirahasiakan. Semua pemalsuan identitas itu sangat mungkin dan sangat mudah dilakukan dalam dunia intelijen.

Semua hal sangat mudah dipalsukan, akan tetapi ada satu hal yang sulit dipalsukan yaitu kepribadian atau mental.  Setiap agen sangat mudah memakai kedok tapi tidak semua agen bisa merubah suara vocal. Setiap agen sangat mudah memalsukan asal wilayah, tapi tidak semua agen mampu memalsukan watak kesukuan dirinya. Setiap agen sangat mudah menyamar menjadi profesi apapun tapi tidak semua agen dapat memalsukan gaya bekerja, gaya bicara termasuk kebiasaan kebiasaan kecil yang khas yang setiap orang punya.

Sifat-sifat yang sangat unik, khas dan individual dalam diri seperti sifat ambisius, sifat rendah hati, sifat penyayang, sifat sadis, sifat pencemburu, sifat tenang, sifat cerdas, merupakan akumulasi dari seluruh potensi kepribadian diri yang sangat sulit diperankan oleh orang lain. Seorang actor Film atau pemain theater saja yang keahliannya memang memerankan figure orang lain, mereka tidak bisa memerankannya sampai 100 persen dari figure yang diperankannya.

Setiap manusia memiliki keunikan tersendiri dalam kepribadiannya, dan setiap profesi memiliki psikologi tersendiri yang sesuai untuk menjalankanya. Tentara, akademisi, politisi, jurnalis membutuhkan struktur kepribadian yang khas dan kompatibel untuk menjalankannya. Orang yang bersaudara kembar se-ibu dan se-bapak, satu daerah, satu sekolah, satu guru yang sama saja tidak mungkin memiliki kepribadian yang sama. Itulah mengapa dalam dunia intelijen dipelajari apa yang disebut dengan human intelijen. Satu bab khusus yang mempelajari masalah kepribadian, cara membacanya dan cara menyembunyikannya.

Dari segi kognitif, human intelijen mencoba membaca pola fikir, tingkat kecerdasan, wawasan serta ideology dari objek spionase. Dari segi emosional human intelijen memcoba membaca tekstur perasaan (lembut-kasar), kejujuran, sensitifitas, sadisme, kemampuan bergaul dari objek spionase. Dari segi motivasi human intelijen mencoba membaca keinginan, kekuatan ambisi, keberanian mengambil resiko. Dan ketahanan menghadapi tekanan. Dari segi biologis human intelijen mencoba membaca ketahanan fisik, ketahanan seksual, etos kerja, kebutuhan nutrisi makanan/minuman dsb. Semua itu dibaca secara rahasia demi mendeteksi hal-hal yang berpotensi membahayakan pertahanan dan ketahanan sebuah lembaga.

Karakter pribadi manusia terbentuk dari unsur dirinya baik secara fisik, biologis, intelektual, sosiocultural dan ekologis. Oleh karena itu, karakter pemikiran seseorang bisa dibaca dari pendidikan yang ia ikuti, buku yang ia baca, guru yang ia turuti dll. Karakter emosional seseorang bisa dibaca dari karakter turunan dari orang tuanya, kasih sayang yang didapat, lingkungan pergaulan yang ditempati, serta pengalaman emosinal selama ia hidup. Karakter motivasional dapat dibaca dari hobi yang digeluti, hal-hal yang dibenci/ditakuti, idola yang ia tiru, serta tuntutan kebutuhan yang ia harus penuhi. Karakter biologis bisa dibaca dari makanan/minuman yang ia biasa makan berikut porsinya, bentuk dan ukuran fisik, kemampuan mengangkat beban dan lain-lain. Semua factor-factor itu sangat berpengaruh juga secara akumulatif. Itulah mengapa biodata seseorang sangat penting menjadi pegangan bagi setiap agen pengintai (spionase).

Karakter pribadi manusia itu berdampak kepada tingkah laku dan tingkah laku itu berbalik mempengaruhi karakter kepribadian. Orang yang hatinya lembut akan berdampak pada kepedulian yang besar kepada nasib sesamanya, orang yang fikirannya cerdas akan nampak dari gaya komunikasi, pengambilan keputusan,  dan analisanya dalam berargumen. Orang yang motivasinya tinggi dapat dilihat dari kebesaran nyalinya. Dan orang yang daya tahan tubuhnya kuat akan nampak kepada kemampuannya dalam mengangkat beban fisik. Masih banyak contoh-contoh lain yang menunjukan bahwa prilaku manusia adalah pancaran jiwanya. Cukup untuk membaca bagaimana kepribadian seseorang, dan dari kepribadian itu bisa dibaca apa status sosialnya.

Itulah sebabnya mengapa wanita cerdik itu bisa membaca identitas Abdullah bin Qais (sang panglima) meskipun ia menyamar sebagai pedagang. Ia melihat melihat jiwa kepemimpinan dari salah seornag pedagang memberikan Sumbangan yang banyak meskipun tidak orangnya dikenal, diiringi ketulusan dan sopan santun yang memuliakan penerima. sifat kepemimpinan Saudagar itu terlihat dari kedermawanan dan kewibawaannya. Maka wanita itu dapat dengan mudah dan cepat menebak saudagar terebut adalah Abdullah Bin Qais yang sedang ia cari.

Kepemimpinan dalam satu tugas dan fungsinya adalah tarbiyah (pemelihara/pengurus). Dimana seorang pemimpin harus mampu mensejahterakan (memenuhi kebutuhan) wakyat/bawahannya, melindungi (memberi rasa aman dari bahaya), mendidik (membangun sumberdaya manusia yang beradab), menuntun (memberi araha ke jalan yang benar) dan lain sebagainya. Dengan tanggungjawab yang besar, dan bawahan/rakyat yang banyak maka seoranng pemimpin sudah terbiasa dan terlatih untuk memberi dan membangun wibawa yang tinggi.

Semakin banyak memberi, semakin banyak melindungi, semakin banyak mendidik dan semakin banyak menuntut, maka kewibawaan dan status kepemimpinannya di hadapan publik akan semakin kuat. dan dengan setatus kepemimpinan yang semakin kuat, maka naluri tarbiyahnya akan semakin tajam. Setiap seorang yang berjiwa pemimpin melihat orang yang lemah maka ia akan cepat iba dan cepat memberikan bantuan. Setiap yang berjiwa pemimpin itu melihat potensi bahawa maka ia akan cepat memberikan pengamanan, setiap sang peimpin itu melihat kebodohan, keterbelakangan danketersesatan, maka ia akan cepat memberikan pengajaran dan pengarahan sampai orang itu selamat.

Abdullah Bin Qais adalah panglima yang sangat penyayang kepada pasukannya, sampai sampi untuk tugas pengintaian (spionase) yang berbahaya saja ia melakukannya sendiri demi keselamatan anak buahnya. Ini sangat baik dari segi kasih sayang, tapi kurnag baik dari segi manajemen. Dalam perjalanan tugasnya sebagai pengintai, ia berhasil menyamarkan penampilannya sebagai seorang pedagang. Tapi ia tidak bisa menyamarkan karakternya yang yang berjiwa pemimpin. Ia sangat baik dan sangat dermawan, sedangkan kebanyakan pedagang tidak seperti itu. Itulah yang mengakibatkan penyamarannya gagal.

Demikianlah kedermawanan ini menjadi tanda dari sifat kepemimpinan.  Yang pertama, Kenyataan ini sangat berguna untuk kita sendiri apabila termasuk ornag yang berhasrat dan berkewajiban menjadi seorang pemimpin. Kita bisa terus melatihnya dengan lebih banyak dan semakin banyak bersedekah. Yang kedua adalah untuk keperluan pengembangan SDM, kita bis amenjadikan uji kedermawanan untuk mendeteksi potensi-potensi kepemimpinan yang bisa dikembangkan kepada anak-anak kita dan generasi penerus bangsa lainya. Sedangkan yang ketiga untuk keperluan intelijen politik (mempertahankan kekuasaan) kita orang-orang yangs edang berkuasa bisa mendeteksi secara cepat pihak pihak yang berportensi mengganggu atau merebut kekuasaan dari seberapa besar kedermawanan musuh-musuh politiknya.

KEPUSTAKAAN :

  1. Ash Salabi, Ali, Muhammad, Dr.| 2012 M. “Episode Krusial Sejarah Muawiyah Bin Abi Supyan” | Darul Haq : Jakarta.
  2. 2015 : Tehnik Penyamaran Intelijen | https://jurnalintelijen.net
  3. Green Robert. 2008 m. “48 Hukum Kekuasaan”. Penerbit Kharisma : Jogjakarta

 

Kota Wisata, 23 Februari 2020 M.

W.A.T.N

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

READ MORE

Inspirasi Bisnis dari Kisah Mata Air Zamzam

Oleh : Zakat Darussalam

 

“Mengapa engkau tega meninggalkan kami di sini?

Bagaimana kami bisa bertahan hidup?”

“Apakah ini perintah Tuhanmu?”

Ibrahim membalik tubuhnya, dan berkata tegas,

“Iya!”.

“Jikalau ini perintah dari Tuhanmu, pergilah, tinggalkan kami di sini. Jangan khawatir. Tuhan akan menjaga kami.”

Sepenggal percakapan ini mengiringi kepergian Nabi Ibrahim meninggalkan siti hajar dan anakanya Isma’il yang masih bayi. Ibrahim meninggaklan mereka di tengah padang pasir tanpa bekal bahan makanan dan air minum sedikitpun. Ibrahim meninggalkan Siti hajar dan Isma’il hanya dengan bekal keyakinan yang tertanam kuat, dan do’a yang tulus kepada Allah agar mereka selalui diberi perlindungan dan pemeliharaan.

Selalu ada interpretasi sosial dari setiap ibadah sosial. Ali Syari’ati mengatakan bahwa kisah ini mengandung nilai perjuangan pencarian. Dimana usaha seseorang harus dilakukan atas dasar keyakinan akan adanya rahmat Allah, atas dasar titah Illahi yang harus dilakukan bagaimanapun jua kondisinya, dan atas dorongan untuk mempertahankan kehidupan yang telah dikaruniakan.

Situasinya sangat tidak realistis, mencari mata air di tengah padang pasir. Tapi siti hajar terus belari mencari. Itulah yang disebut perjuangan atas dasar titah Illahi. Bahwa usaha yang dilakukan jangan memperhitungkan hasil. Tapi Allah tidak akan menerlantarkan usaha orang yang memaksimalkan potensinya.

Dalam kisah mata air zamzam ini  terdapat inspirasi ketahanan ekonomi dalam perjuangan dakwah. Lebih tepatnya ketahanan ekonomi keluarga dalam peninggala tugas jihad fi sabilillah.

Bukankah tidak sedikit cerita ibu rumahtangga dan anak-anaknya yang ditinggalkan suami/kepala keluarganya karena tugas jihad. Tugas jihad harus ditunaikan tapi keluarga juga harus diselamatkan. Itulah dilemanya. Kisah ini memberikan inspirasi yang banyak.

 

  1. Perencanaan Bisnis

 Ketika Siti Hajar kembali dan Nabi Ibrahim melanjutkan perjalanannya hingga ketika sampai pada sebuah bukit dan mereka tidak melihatnya lagi, Ibrahim menghadap ke arah Ka’bah lalu berdoa untuk mereka dengan mengangkat kedua belah tangannya, dalam doanya ia berkata, “Ya Tuhan kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati. Ya Tuhan kami (yang demikian itu) agar mereka mendirikan shalat, maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan beri rezekilah mereka dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur.”  (QS. Ibrahim: 37)

Do’a secara ritual adalah kalimat permohonan yang diajukan kepada Allah sembari menengadahkan tangan menghadap yang maha kuasa. Akan tetapi do’a secara aktual adalah niat dan rencana yang matang untuk melakukan sesuatu. Di ujung do’anya ibrahim memohon untuk diberikan rezeki dari buah-buahan. Maka aktualisasinya adalah ktia harus meniatkan, merencanakan mempersiapkan sebuah wirausaha/matapencaharian sebagai sumber rezeki bagi keluarga yang kita tinggalkan semasa perjuangan dakwah. Kita harus bertekad bahwa anak dan istri kita akan mendapat rezeki dari hasil usaha sendiri, bukan meminta-minta.

 

  1. Pencarian Tiada Henti

Meskipun niat sudah kuat, perencanaan bisnis sudah matang, tapi bisnis bukanlah hal mudah. Sangat sedikit orang yang mengawali bisnis dan langsung berhasil. Lihatlah siti hajar beberapa kali dia bolak balik dari bukit ke bukit, mencari bahan makanan di tengah padang pasir, mencari bantuan dari kabilah yang biasa lewat, dia tidak menemukan apapun sampai dia kehabisan tenaga. Meski dengan sedikit peluang yang ada tapi mencari makanan harus tetap dicoba dan dimulai oleh siti hajar, karena itu perintah Illahi untuk berikhtiyar.

Begitu juga bisnis, meski dengan peluang pasar yang sedikit, dan potensi yang minim, bisnis harus tetap dicoba dan dimulai. Karena ini kewajiban. tidak mudah menemukan bisnis yang cocok dengan kompetensi kita, tidak mudah menemukan usaha yang cocok dengan kondisi pasar, tidak mudah menemukan usaha yang maju berkembang sesuai iklim ekonomi yang ada. Tidak sedikit orang yang gagal berkali-kali, jatuh bangun merintis bisnis sampai akhirnya menemukan bisnis yang sukses hasil beratus-ratus kali evaluasi.

 

  1. Memanfaatkan Potensi Diri

Meskipun Siti hajar berlari lari mencari rezeki dari bukit shafa dan marwa, tapi mata air terpancar dari bawah tumit nabi Isma’il. Tempat mula ia berangkat, tempat nabi isma’il ditinggalkan untuk mencari makanan. Isyarat ini menandakan bahwa seberapapun kita mengikuti banyak pelatihan bisnis, mencari investor, membuka pasar dan sebagainya untuk membangun bisnis, bisnis harus dimulai dari potensi yang kita miliki.

Bisnis harus dimulai dari apa yang kita bisa (kompetensi diri). Apa yang kita punya (modal pribadi) pasar yang kita miliki (siapa orang terdekat) dan tempat yang kita punya (rumah sendiri). Dengan memaksimalkan kemampuan yang ada, maka semakin lama kemampuan kita semakin bertambah. Dengan memaksimalkan aset yang ada untuk dijadikan modal, maka semakin lama aset kita semakin bertambah. Dengan memaksimalkan modal keuangan yang kita miliki, maka semakin lama nilai saham kit asemakin tinggi. Dengan memaksimalkan jaringan pertemanan dan keluarga yang ada, lambat laun jaringan usaha kita akan semakin bertambah.

 

  1. Berbagi Lapangan Kerja

Setelah mata air memancar dari bawah tumit Isma’il, air semakin menggenang di tempat tersebut. Siti hajar kemudian meminumnya dan meminumkannya kepada Isma’il. Dengan nutrisi tersebut diti hajar juga bisa kembali menyusui nabi Isma’il. Karena mata genangan airnya semakin banyak, sekawanan burung berputas di langit atas tempat tersebut. Itu terjadi karena tabi’at dasar burung tersebut.

Beberapa kabilah yang sedang sama sama mencari mata air melihat sekawanan burung tersebut. Mereka tahu jika ada sekawanan burung berputar di langit, maka dibawahnya ada mata air yang terpancar. Kabilah tersebut kemudian mendatangi tempat siti hajar dan ikut serta mengambil air dari mata air tesebut. Siti hajar memperbolehkan mereka mengambil airnya tapi tidak mengizinkan mereka memiliki sumber mata air itu.

Begitu juga dengan bisnis kita, semakin lama bisnis itu semakin bermanfaat mengalirkan rezeki kepada keluarga kita. Semakin banyak orang yang berkumpul dan beraktivitas di rumah/perusahaan kita. Orang-orang yang membutuhkan lapangan kerja akan menyangka bahwa sebuah tempat yang dikerumuni banyak orang pasti mengandung sumber mata pencaharian yang layak (ada gula ada semut) istilahnya.

Akan banyak orang yang meminta kepada kita untuk ikut bekerja mengais rezeki di perusahaan kita. Jika sudah terjadi seperti itu, kit aboleh menseleksi. Apabila orangnya cukup layak dipekerjakan maka kita bisa merekrutnya, apabila tidak cukup layak maka kita perlu membantunya saja dengan sumbangan lepas.

Inilah beberapa isnpirasi yang bisa kami paparkan sebagai ibrah dari kisah besar yang mendasari sebuah ritual pada ibadah wajib ummat Islam. Masih banyak ibrah yang bisa kita gali dari kita. Selama kita peka dan mau mencari karunia Allah dalam peristiwa tersebut. Semoga bis amemberi semangat dan manfaat bagi kita semua untuk senantiasa berikhtiyar tiada henti untuk mensyukuri hidup yang dikaruniakan oleh Allah kepada kita semua.

 

KEPUSTAKAAN

  1. El-Fikri, 2017 “Sa’i adalah Pencarian” | Jurnal Islam Digest. www.republika.co.id
  2. Bin Musa, 2013 . “kisah nabi ismail alaihissalam bagian-1” | Kisah pilihan. https://kisahmuslim.com

 

 

Kota Wisata, 17 Februari 2020 m

(W.A.T.N)

 

 

 

 

READ MORE
×
Assalamualaikum, Ada yang bisa kami bantu?