#KaryawanPeduli

PENYALURAN DONAI KORBAN MUSIBAH ALAM DI SULAWESI TENGAH, DARI KARYAWAN PADMA SOODE MELALUI ZAKAT DARUSSALAM

Oleh : Zakat Darussalam

Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Alla] adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui.

(QS. Al Baqoroh : 261)

Bagi karyawan, gaji adalah bahasa umum dari penghasilan, sedangkan bagi pengusaha, laba dan omset dalah namalain dari penghasilan atas usaha yang dilakukan karena merupakan upah kerja yang didapat dari perusahaan yang mereka kembangkan. Gaji hanya sebagian kecil dari penghasilan, dan penghasilan juga sebagian kecil dari apa yang disebut dengan Rezeki dari Alloh SWT. Rezeki dari Alloh adalah segala bentuk anugerah yang dinikmati yang dibutuhkan oleh jiwa dan raga untuk kelangsungan hidup. Keluarga yang soleh, Teman yang baik, lingkungan yang nyaman, tubuh yang sehat, fikiran yang tentram, ilmu yang bermanfaat, gagasan yang mengalir dan tempat tinggal yang strategis untuk beraktivitas juga merupakan rezeki bila dihargakan dalam bentuk uang akan berjumlah jutaan bahkan milyaran rupiah. Jika rezeki dihitung dengan sebatas gaji per-bulan, maka betapa sempit kita memaknai karunia Alloh SWT kepada makhluqnya.

Meskipun begitu, gaji/penghasilan tetap menjadi sesuatu yang penting bagi setiap pekerja ataupun pengusaha. Pertanyaan penting ketika melamar pekerjaan atau hendak menjalankan usaha adalah “berapa gajinya?, atau berapa keuntungannya?. Dari gaji yang didapat kita bisa menebak berapa kekayaan yang di miliki seseorang, berapa kemampuan belanjanya, barang kualitas apa saja yang dimiliki. Orang yang gajinya kecil tapi memiliki barang barang mahal bermerk tidak sedikit jadi bahan kecurigaan. Begitulah gaji/omset secara praktis bisa menjadi tolak-ukur kekayaan seseorang.  

Kita lihat bagaimana orang merasa sangat senang dengan mendapat bonus atas prestasi kerja, dan merasa gelisah ketika gaji datang terlambat, orang juga akan senang jika gaji/omset tiba-tiba naik, dan mereka akan bersedih ketika gaji tiba-tiba dipotong. Kita juga lihat bagaimana karyawan rela menambah jam kerja lembur untuk menambah gaji/penghasilannya. Bahkan berkembang sebuah anekdot bahwa “wajah istri nampak lebih cerah di tanggal muda, dan mapak lebih kusam di tanggal tua”.

Setiap orang memiliki pendapatan yang terukur, dengan kebutuhan yang tak terbatas. Maka setiap orang akan memilih prioritas belanja. Mengutamakan kebutuhan pokok daripada kebutuhan pelengkap. Membayar cicilan, iuran bulanan, menabung untuk kebutuhan jangka panjang hanya orang yang berpenghasilan tinggi yang mampu membeli kebutuhan kebutuhan tersier umpama perhiasan, koleksi barang antik dan barang penunjang hobi. Jikapun ada orang menengah yang memiliki itu pastinya itu hasil jerit payah menabung dan rela makan sederhana untuk menabung. Dengan banyaknya kebutuhan tersebut, lebih banyak orang yang pendapatannya pas-pasan bahkan kurang untuk memenuhi kebutuhan pokoknya. Dan semakin tinggi pendapatan semakin besar pula kebutuhan hidup manusia.

Diantara kebiasaan orang memanfaatkan gajinya, hanya orang orang yang memiliki empati sosial, dan berpemahaman agama yang berfikir untuk menginvestasikannya untuk kepentingan akhirat, membayar zakat, menginfakan untuk kepentingan umum, bersedekah untuk mendekatkan diri kepada Alloh, atau mewakafkan hartanya untuk pembangunan sarana-prasarana agama. Orang harus diiming-imingi dengan bonus tak langsung baru mereka bersedia melakukan itu semua, misalnya jika bersedekah akan dibalas dengan rezeki tak terduga, jika berinfak maka perusahaannya akan maju, jika membayar zakat maka akan terhindar dari pencurian dsb. Paling tidak orang harus diiming-imingi dengan surga, baru mereka akan bersedia mengorbankan hartanya untuk kepentingan orang lain. Begitulah manusia dalam Alquran sudah digariskan dengan sifat dasar pelit (QS. Al Maarij ayat 19-21). Hanya orang-orang yang beriman yang tidak tergantung oleh pesona duniawi.  

Dengan banyaknya kebutuhan yang mendesak, untuk mengeluarkan uang 100 ribu saja orang berfikir seribu kali, apalagi untuk disumbangkan secara Cuma-cuma. Orang akan mengeluarkan harta jika sudah nampak keuntungan yang akan dihasilkannya. Orang butuh alasan kuat dan berlapis-lapis agar bisa mengeluarkan harta untuk kepentingan orang lain. jika tidak ada timbal-balik positif setelahnya. Sebab akan ada banyak kebutuhan yang tidak terpenuhi jika hartanya dikeluarkan begitu saja. Jika orang mewakafkan tanah, maka ia berresiko tidak memiliki lahan untuk bercocok tanam atau membangun rumah. Jika orang menginfakkan uang, ia berresiko kekurangan makanan, pakaian dan kebutuhan lainnya. Jika orang mawakafkan waktu dan tenaga, ia berresiko kehilangan kesempatan untuk bekerja dan mencari penghasilan untuk keluarganya. Jikapun orang menyumbangkan barang pasti barang itu yang sudah tidak terpakai atau termasuk kategori sampah. Jikapun ornag menyumbangkan uang pasti itu uang sisa belanja yang nilainya tak seberapa. Jikapun orang mengalokasikan waktu untuk kepentingan umum, itu pasti d hari libur dimana orang terlepas dari beban kerja.

Banyak resiko yang ditanggung bila seseorang mengeluarkan hartanya secara Cuma-Cuma untuk kepentingan orang lain. Hanya orang orang yang beriman yang akan berani melakukannya, sebab mereka meyakini akan hakikat kepemilikan harta hanya milik Alloh, mereka meyakini hakikat semua manusia adalah makhluq Alloh yang sama-sama harus bisa memenuhi kebutuhan hidup, mereka meyakini akan adanya kehidupan akhirat yang lebih abadi yang dibangun dari amal-amal soleh yang dilakukan secara ikhlas. Hanya orang orang yang menghayati/merasakan pertemuan dengan Rabb kekasihnya dalam setiap amal soleh yang di lakukan. Orang-orang yang berani mengorbankan harta, jiwa dan raganya untuk kepentingan orang lain di jalan Alloh adalah orang orang yang luar biasa, memiliki kecerdasan emosional tinggi, memiliki kekuatan ruhani, memiliki ikatan yang kuat dengan dzat yang maha kuasa.

Kota Wisata, 22 Oktober 2018