Raih Keutamaan 10 Hari Terakhir Ramadhan

Sumber Oleh: Elisa Novaliana

Kita sudah berada di 10 hari terakhir, itu artinya sebentar lagi bulan Ramadhan akan segera pergi. Oleh karena itu, mari kita kencangkan sabuk ketaatan dan mengisi 10 hari terakhir ini dengan sebaik-baiknya ibadah.

Diriwayatkan dari Aisyah Radhiyallahu ‘anha, bahwasanya “Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam jika memasuki sepuluh hari terakhir dari bulan Ramadhan, mengencangkan ikat pinggang dan menghidupkan malam-malamnya serta membangunkan keluarganya.” (Muttafaq Alaih).

Ramadhan merupakan waktu yang istimewa bagi umat Islam, karena Allah akan melipat gandakan setiap kebaikan. Terlebih lagi di 10 malam terakhir, intensitas pahala akan meningkat berlipat dan rahmat atas pengampunan dosa pun dibentangkan oleh Allah seluas-luasnya. Itu sebabnya mengapa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam menyuruh kita untuk memanfaatkan momen ini sebaik-baiknya.

Bahkan nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam  turut mengajak keluarga serta para sahabatnya untuk menghidupkan malam-malam tersebut. Hal ini dikarenakan beliau mengetahui betapa istimewanya 10 hari terakhir Ramadhan, dimana di dalamnya ada satu malam yang kedudukannya lebih baik dari pada seribu bulan (lailatul qadar).

Allah Ta’ala berfirman yang artinya:

Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al-Qur’an) pada malam lailatul qadar. Dan tahukah kamu apakah malam lailatul qadar (malam kemuliaan) itu? Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan. Pada malam itu turun para malaikat dan Roh (Jibril) dengan izin Tuhannya untuk mengatur semua urusan. Sejahteralah (malam itu) sampai terbit fajar.” (Q.S. Al-Qadr 1-5)

Ibadah-ibadah yang dapat kita lakukan di 10 hari terakhir diantaranya adalah beritikaf dimasjid, membaca Al-Quran, berdzikir, istighfar, berdoa memohon ampunan, bersedekah memperbanyak sholat sunnah terutama shalat malam. Karena dengan melakukan shalat malam pada bulan Ramadhan akan menghapuskan dosa-dosa yang telah lalu. Sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam:

“Barangsiapa yang berpuasa dan melakukan qiyam Ramadhan (shalat malam) dengan penuh keimanan dan mengharap pahala dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala, niscaya diampuni dosa-dosanya yang telah lalu (H.R. Al-Bukhari dan Muslim).

Mengingat banyaknya keutamaan di 10 malam terakhir ini, sangat disayangkan jika malam-malam tersebut berlalu begitu saja tanpa diisi dengan amal-amal kebaikan dan usaha yang maksimal dari kita untuk meraihnya. Semoga kita dapat meraih malam kemuliaan tersebut dan Allah pertemukan kembali dengan Ramadhan berikutnya.

READ MORE

Penyaluran Zakat Darussalam

Sumber Oleh: Elisa Novaliana

Lembaga Zakat Darussalam Alhamdulillah telah dipercaya oleh ribuan jamaah dalam menyalurkan zakat, infaq dan shodaqohnya kepada yang membutuhkan. Letaknya yang strategis yaitu berada di pusat beberapa perumahan, menjadikan Masjid Darussalam Kota Wisata sering dikunjungi oleh jamaah, mulai dari penduduk kota wisata maupun di luar kota wisata.

Sampai saat ini telah banyak program yang terlaksana dan berjalan lancar walau dengan segala kekurangannya. Program-program penyaluran zakat tersebut diantaranya ialah bantuan pasca bencana alam, seperti renovasi mushola gempa Majene, Mamuju, Sulawesi Selatan. Mewujudkan berdirinya mushola di Desa Seseupan Kecamatan Caringin, Sukabumi dan sebagainya.

Membangun masjid dan mushalla merupakan salah satu amalan yang mendatangkan pahala besar. Hal ini diterangkan dalam sebuah hadis, yang mana Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda, “Barangsiapa yang membangun masjid karena Allah walaupun hanya selubang tempat burung bertelur atau lebih kecil, maka Allah akan bangunkan baginya rumah seperti itu pula di surga.” (H.R. Ibnu Majah).

Selain program di atas, Lembaga Zakat Darussalam juga telah menyerahkan bantuan kepada warga yang terkena banjir di wilayah DKI Jakarta;Bumi Nasio Indah, Pondok Gede Permai, kawasan Puncak, Villa Nusa Indah 2, banjir bandang di Garut Selatan, bencana lombok dan palu,serta korban bencana yang ada di Lombok, NTB dan dan Palu, Sulawesi Tengah.

Penyaluran zakat pun telah dilakukan kepada masyarakat sekitar Ciangsana, Gunung Putri, Kabupaten Bogor berupa pembagian paket sembako (sembilan bahan pokok) setiap hari selama bulan Ramadhan.

Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam menyampaikan bahwa, “Siapa yang memberi makan orang yang berpuasa, maka baginya pahala seperti orang yang berpuasa tersebut tanpa mengurangi pahala orang yang berpuasa itu sedikit pun juga.” (H.R. Tirmidzi, Ibnu Majah dan Ahmad).

Sungguh besar keutamaan dan pahala orang yang bersedekah, karena dapat membersihkan harta, diri sekaligus jiwa dari dosa. Bersedekah dapat melembutkan hati, menghilangkan sifat kikir dan sombong. Jauh dari pada itu, pada bulan Ramadhan segala amal kebaikan akan di lipat gandakan pahalanya.

Pihak  Lembaga Zakat Darussalam mengucapkan terima kasih sebanyak-banyaknya kepada para donatur yang senantiasa percaya dalam menitipkan donasinya guna disalurkan kepada orang-orang yang berhak menerimanya.

Pihak Lembaga Zakat Darussalam juga berdoa agar Allah selalu melimpahkan kesehatan dan keberkahan kepada jamaah yang telah mengeluarkan harta terbaiknya dan semoga bantuan yang diberikan dapat bermanfaat bagi kemaslahatan umat.

Pihak Lembaga Zakat Darussalam pun berharap agar jamaah tidak pernah ragu untuk bersedekah. Sebab, harta yang dikeluarkan seseorang tak akan membuatnya miskin. Bahkan, Allah akan memberkahi rezeki dan harta orang yang selalu bersedekah. Dalam sebuah hadis dinyatakan bahwa pada hari kiamat kelak, Allah akan menaungi orang-orang yang bersedekah dengan sembunyi-sembunyi. Sehingga, diibaratkan bahwa tangan kirinya tidak mengetahui apa yang dikeluarkan oleh tangan kanannya.

READ MORE
Apakah Sedekah Hanya Untuk Orang Kaya?Inspirasi

Apakah Sedekah Hanya Untuk Orang Kaya?

Sumber Oleh: Elisa Novaliana

Apakah bersedekah harus kaya dan menunggu kondisi ekonomi kita cukup dahulu? Tentu saja jawabannya tidak. Bersedekah itu tidak perlu menunggu kaya terlebih dahulu, bagaimana jika nasib kita ternyata tidak menjadi orang kaya? Apakah itu artinya kita tidak sedekah-sedekah? Nauzubillahi Min Dzalik.

Dalam bersedekah, kita tidak perlu menunggu kaya, karena sejatinya sedekah itu tidak harus dikeluarkan dengan menggunakan uang, namun bisa juga dengan hal lain, contohnya makanan. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda “Makanan untuk 2 orang cukup untuk 3 orang. Makanan untuk 3 orang cukup untuk 4 orang.” (H.R. Bukhori dan Muslim).

Masya Allah hadis ini sungguh dapat dengan mudah diterapkan dalam kehidupan kita sehari-hari. Maksud dari hadis ini ialah, makanan yang kita masak itu dapat menjadi pundi-pundi sedekah bila kita memisahkan dan memberikannya kepada saudara ataupun tetangga kita yang membutuhkan.

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda “Wahai Abu Dzar, jika kamu memasak gulai, maka perbanyaklah kuahnya dan bagikanlah kepada tetanggamu.” (H.R. Al-Bukhari dan Muslim).

            Dengan membiasakan sedekah sederhana ini, hati kita akan menjadi lebih lembut dan lama-kelamaan terbiasa untuk melaksanakan kebaikan lainnya yaitu bersedekah dengan sebagian harta kekayaan baik dalam keadaan lapang dan sempit. Karena Allah Ta’ala berfirman dalam Al-Qur’an surat Adz-Dzariyat ayat 15-19, “Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa berada didalam taman-taman surga dan mata air. Mereka mengambil apa yang diberikan Tuhan kepada mereka. Sungguh mereka sebelum itu (di dunia) adalah orang-orang yang berbuat baik. Mereka sedikit sekali tidur pada waktu malam. Dan pada akhir malam mereka memohon ampunan (kepada Allah). Dan pada harta benda mereka ada hak orang miskin yang meminta dan orang miskin yang tidak meminta.”

            Oleh karena itu marilah kita bersama-sama membiasakan diri untuk bersedekah. Ingat, tidak perlu menunggu kaya atau cukup untuk bersedekah. Karena dengan bersedekah, maka harta yang kita miliki menjadi cukup dan berkah. Tidak perlu dengan nilai yang besar, asalkan rutin dan ikhlas insya Allah sedekah kita akan bernilai ibadah dan menjadi penyelamat di hari kiamat nanti.

READ MORE
surat pertengahan ramadhan (2)Edukasi

Sudah Pertengahan Ramadhan, Sampai Mana Tilawah Qur’an Mu?

 Sumber Oleh: Elisa Novaliana

Sudah pertengahan Ramadhan nih, kira-kira sudah sampai mana target bacaan kita?  Berapa juz yang sudah kita baca? Apakah setiap hari kita telah mengisinya dengan kebaikan dan amal sholeh? Atau hanya dengan perbuatan maksiat dan sia-sia?

Allah telah memberikan kita nikmat sehat dan waktu untuk bertemu dengan Ramadhan tahun ini, mengizinkan kita agar dapat merasakan indahnya bulan suci dan memberikan kesempatan untuk memperbaiki Ramadhan sebelumnya. Namun terkadang kita tidak peka dan bersikap biasa saja, seolah-olah kita pasti akan dipertemukan lagi oleh bulan Ramadhan berikutnya.

Padahal dulu para sahabat selama enam bulan sebelum kedatangan bulan Ramadhan selalu berdoa agar Allah mempertemukan mereka dengan bulan Ramadhan. Kemudian selama enam bulan sesudah Ramadhan, mereka juga berdoa agar Allah menerima amal mereka selama bulan Ramadhan. Bayangkan bagaimana besarnya para sahabat memuliakan bulan Ramadhan.

 

Seharusnya sebagai seorang muslim kita dianjurkan untuk meraih sebanyak-banyaknya amal sholeh di bulan Ramadhan. Salah satu amal yang sangat dianjurkan pada bulan Ramadhan yaitu adalah membaca Al-Qur’an. Diantara keadaan Salafush Shalih ialah selalu menyibukkan dirinya dengan Al-Qur’an, mulai dari membaca, mempelajari dan mentadabburinya.

            Ustman bi Affan mengkhatamkan Al-Qur’an setiap hari pada bulan Ramadhan. Sebagian Salafus Shalih mengkhatamkan Al-Qur’an dalam sholat tarawih setiap tiga malam sekali. Sebagian lagi setiap tujuh malam sekali. Sementara sebagian lainnya mengkhatamkannya setiap sepuluh malam sekali. Masya Allah betapa indahnya bercengkrama dengan Al-Qur’an.

            Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda:

“Siapa yang membaca satu huruf dari Al-Qur’an maka baginya satu kebaikan dengan bacaan tersebut, suatu kebaikan itu dilipat gandakan menjadi 10 kebaikan semisalnya. Dan aku tidak mengatakan bahwa الم itu satu huruf, akan tetapi Alif satu huruf, Laam satu huruf dan Mim juga satu huruf,” (H.R. Tirmidzi).

READ MORE